Tentang EMBUN

 

Terbuat dari apakah Embun?

Apakah dia serpihan alam raya yang kehabisan arah kembara di jagad malam dan kegelapan, lalu menemukan tempat berbaring di dedaunan?

Apakah dia untaian resah dan gelisah kehidupan, yang terhuyung tak menemukan singgasana di udara, lalu terhempas ke setiap atap dan menetes pulang ke tanah, rumah asali setiap yang bernafas itu?

Embun, riwayat malam yang berakhir beningkah?

 

 

Sebab inilah yang sering terjadi setiap Senin subuh:

 

 

Sebaik alarm di ponsel berbunyi pukul 03.30 WIB lebih atau kurang beberapa detik, perempuan itu terbangun. Dia akan bangkit dari tidurnya, senikmat apa pun mimpi sedang berlangsung. Tak ada tempat bagi rasa kantuk yang mendera, bersegera dia menuju kamar mandi, membersihkan tubuh dari uap keringat dan dengkur, mengenakan pakaian, lalu memoles wajah dengan sedikit bedak, memoles bibir dengan lipstik tipis.

Usai ritual kecantikan itu, perempuan itu beranjak ke dapur, menyeduh teh manis hangat dalam cangkir berukuran agak besar, menyajikan makanan ringan, lalu membangunkan lelakinya. “Bangunlah, sudah nyaris pukul empat.”

 

 

Sebaik si lelaki bangun dan mengumur mulut dengan air hangat, berdua mereka minum teh dan mencicipi makanan ringan, sambil sejenak bercerita tentang kehidupan, masa depan, juga harapan-harapan. Mereka juga bicara tentang doa, luka, airmata dan kebahagiaan yang, sesekali, bercampur seperti ketidakpastian hidup.

 

 

Pukul 04.30 WIB lebih atau kurang beberapa detik, mereka keluar rumah. Perempuan itu permisi pada bapak dan bunya, lalu dengan sepeda motor menembus subuh bersama lelaki itu, menuju stasiun bus. Yah, perempuan itu akan menuju Medan dengan bus, sementara si lelaki tinggal di Pematangsiantar. Selalu ada sepi, juga sedih. Keberangkatan memang selalu meninggalkan debar, seperti kedatangan juga selalu membawa getar.

 

 

Sepasang kekasih itu, demikianlah, satu bekerja di Medan, satu lagi di Pematangsiantar. Mereka adalah jiwa yang sudah mengarungi waktu dan peristiwa selama 6 tahun. Sejak usia hubungan 4 tahun, lelaki itu telah menjadi bagian dari keluarga perempuan itu. Maka, setiap minggu malam, jika perempuan itu pulang dari Medan, lelaki selalu tidur di rumah perempuan itu, sebab akan bertugas mengantarnya ke stasiun pada Senin subuh.

 

 

Dan inilah yang selalu terjadi dalam perjalanan menuju stasiun:

 

 

Satu dua angkutan kota bergerak lamban. Para pedagang kaki lima mulai hambur dari rumah. Penarik becak mendayung dengan kaki dibungkus sepatu bot. Gelandangan dan pengemis mendengkur dengan tubuh terbuang di emper toko-toko milik etnis Tionghoa. 

 

Lalu pasar pagi. Ada lilin-lilin yang dinyalakan sebagai penerang, berbaris di sepanjang trotoar jalan, membentuk demonstrasi cahaya. Ah, masih lamakah matahari itu? Ibu-ibu menggelar dagangan di trotoar, di samping lilin-lilin itu. Pikuk.

“Lihatlah, hidup memang harus diperjuangkan,” kata lelaki itu.

“Yah, mereka kedinginan. Sampai kapan mereka bertahan dengan kehidupan seperti itu?”

“Sampai kita tahu tak ada batas perjuangan.”

“Abang mau nggak memperjuangkan aku seperti penarik becak itu?”

“Adek mau nggak memperjuangkan aku seperti inang-inang (ibu-ibu) penjual tomat itu?”

“Kok jadi aku?”

“Dekku, semua orang akan melakukan apa pun untuk kehidupan dan cintanya.”

“Yah, kita juga lelah. Sama seperti mereka. Harus menerobos dingin seperti ini.”

 

 

Demikianlah peristiwa itu sering terjadi dalam percakapan, tapi lebih sering dalam hati dan pikiran. Sebab ketika memandang realitas sedih secara berulang-ulang, seseorang mungkin tak lagi banyak bicara, tapi menyimpannya jadi makanan jiwa.

“Ambil semua embun-embun di subuh ini ya Abangku, jadi doa kita,” kata perempuan itu, menghentak hati lelaki itu.

 

Peristiwa subuh itu masih terus berlangsung. Sudah dua tahun lebih, embun-embun itu seolah tak akan habis bercerita. Lelaki dan perempuan itu kini telah menikah. Kini setiap Senin subuh, lelaki itu tidak lagi lagi mengantar kekasihnya ke stasiun, tapi istrinya. Subuh yang memisahkan mereka selama selama 5 hari. Sedih yang ditawarkan keberangkatan makin pekat. Riang yang dihantar kepulangan semakin kekal.

 

 

Lelaki itu adalah aku, PANDAPOTAN MT SiALLAGAN, yang hingga saat ini masih gagal jadi sastrawan. Hehe. Perempuan itu adalah HANNA PANJAITAN, perempuan cerdas yang tak habis cinta.

 

 

Pernikahan kami berlangsung riang pada Sabtu 20 Oktober 2007. Keriangan yang mudah-mudahan bisa kami jaga. Sebab keriangan adalah alat mempertahankan hidup dari kepedihan, seperti embun bersetia menandai hari. Blog ini, pada mulanya adalah embun.

–Tabik–

20 Komentar

  1. Ratna berkata,

    Nopember 28, 2007 pada 11:19 pm

    Satu lagi kebesaran Tuhan yang saya lihat. KebesaranNya menganugerahkan talenta pada seseorang yang bisa merefleksikan karyanya dengan sangat…. Aduh, ga tau deh. Bravo ya! Senang bisa nemu blog ini. Saya link ya. Ijin belajar dari blog ini….
    ***luar biasa komenmu. ini membuatku terhentak, aku bisa nulis ternyata bukan karena diriku, tapi karena Tuhan. Thanks atas kalimat yang lebih seperti doa ini. Ok, mari kita saling belajar. Blogmu juga kulink ya!

  2. meiy berkata,

    Nopember 29, 2007 pada 8:00 am

    duh indahnya embunmu dan istri. Selamat ya sohib baru. Penganten baru rupanya bah hehehe…

    embun, selalu kucintai kilaunya di pagi dingin
    mengingatkan pada kampungku di kaki gunung :)

    anakku juga namanya si bening tetesan embun bang, Naysa Qahtrunnada :)
    *** salam buat anakmu ya. jangan ajari dia nakal.

  3. Harry Andrian Simbolon berkata,

    Desember 2, 2007 pada 2:17 am

    Penganten baru rupanya kau apara, selamat menempuh hidup baru ya. nice to read your poem. a good pujangga. keep in touch apara, ajari aku menulis pusi pusi yang indah ya.
    ***Thanks appara. wah, jangan bilang good pujangga. semua masih berlangsung appara. dan masih banyak yang masih akan berlangsung.

  4. Si Ujung Tanjung berkata,

    Desember 4, 2007 pada 12:27 pm

    ah, aku tak heran bung. bagi mantan lelaki malam sepertimu embun sudah menjadi serpihan tubuhmu yang lain. aku, lelaki senja, bias karat matahari adalah cerita yang lain. tapi jangan sampai imsomnia itu masih juga bersarang dan bercakap-cakap di kepalamu, bung. ha2. aku yakin dia sudah mulai angkat kaki…[salam dengan Hanna. tak sabar aku punya ponakan...he2]

    salam
    SZ

    *** trimakasih bung sudah datang mengunjungi rumahku ini. jadi ingat aku pekanbaru. sebagian hatiku masih tercecer di sana. hehe

  5. meiy berkata,

    Desember 5, 2007 pada 7:25 am

    pas sekali aku sedang bertandang dikaupun datang hehehe

    aku senang dong penulis sepertimu mau mengambil isi blogku, please dg senang hati.

    seperti yg aku tulis sangat klise…aku ini manusia biasa :)

  6. Dhe' lagi nga' nyambung berkata,

    Desember 5, 2007 pada 8:51 am

    mudah mudahan embun - embun itu terus menginpirasi abang, biar tutur yang indah dari abang terbaca oleh kami

    selamat yak bang atas pernikahanya, mudah - mudahan happy ever after.

    salam untuk sang embunnya si abang, hanna
    ***trimakasih. trimakasih. kalian sangat baik telah membaca semua resahku

  7. Sayap KU berkata,

    Desember 10, 2007 pada 2:58 am

    Panggil Ade dengan sebutan embun …

    -Ade-

  8. Hanna berkata,

    Desember 10, 2007 pada 8:14 am

    Mudah-mudahan embun itu selalu memberikan kesejukkan dan kenyamanan dalam kebeningannya. Selamat yach atas pernikahannya dengan seorang wanita yang nama depannya sama dengan nama saya. Sebagai seorang sahabat, dengan segala kerendahan hati dan ketulusan, saya mendoakan moga cepat menjadi seorang sastrawan dan hari-hari kalian berdua selalu indah.

  9. goop berkata,

    Januari 7, 2008 pada 11:03 am

    Embun…
    selalu ogah-ogahan jatuh dari pucuk daun…
    saat angin berdesir, dia akan ikut bergoyang…
    mencari sinar mentari, menjadi prisma…
    membiaskan warna, lebih indah dari pelangi…
    sebenarnya, apakah yang ditawarkan embun?? dinginkah?? atau kehangatan??
    nice post bro :mrgreen:

  10. Lamtorang Erdina Siallagan berkata,

    Januari 21, 2008 pada 5:58 am

    walau mungkin sudah terlalu lama terlambat tapi untuk ngungkapin kata hati tidak ada kata terlambat…Congratulations for your wedding bro…salam sama eda itu,kali boleh lah di sisipkan foto pernikahan kalian hahahaha,,,and moga langgeng dan suksess jadi penulis deh…karena aku juga suka menulis…Cyaaa and keep in touch..

    siallagan /batam
    *** wah, trimakasih ito. lama aku tak berkabar, yah seperti itulah. sibuk tak menentu.

  11. herli berkata,

    Januari 23, 2008 pada 3:50 am

    bagus juga setelah baca, ada riang dan haru biru dalam perjuangan hidup.kt doakan spy sukses dlm r.tangga n karir jg.

  12. azaxs berkata,

    Januari 23, 2008 pada 8:23 am

    Pernahkah ia menolak hadir dalam keseharian kita? Atau berapakah kita harus membayar mereka untuk datang tepat waktu? Mungkin pertanyaan yang menggelitik.. yup, fitrah manusia memang untuk bertanya walaupun kadang pertanyaan tidak penting sekalipun.. Di jaman sekarang ini masihkah azaz keikhlasan dipegang oleh para pemeluknya? Pertanyaan ini bisa dijawab oleh sang embun.. bukankah ia selalu hadir tepat waktu tanpa mempertimbangkan berapa besar konstribusi kita kepada alam…

    Segarkan dunia dan kegersangan dengan embun.. :)

  13. Yuliazmi berkata,

    Februari 20, 2008 pada 11:43 am

    Embun memang menyegarkan hati ya… Salam kenal, terima kasih sudah mampir ke blog saya :)

    ***** Makasih berkunjung ke rumah sederhana ini.

  14. kucingkeren berkata,

    April 21, 2008 pada 8:58 am

    semoga kekal sampai akhir… :-)

  15. arix sagala berkata,

    April 26, 2008 pada 10:27 am

    mantap kali puisinya senior,aku juniormu angkatan 99

  16. Stella Rajagukguk berkata,

    Mei 9, 2008 pada 6:37 am

    Ito… Udah kubaca tulisanmu yang “Embun Pulang Abadi”, dan aku suka sekali, walaupun gak tau itu kisah nyata atau bukan.

    Cepatlah kau jadi sastrawan, Ito. Karena aku akan jadi komentator setiamu. :-)

  17. eMina berkata,

    Juni 3, 2008 pada 12:52 am

    Uwaaaa..so beautiful !!!!
    so beautiful !!!
    blog ini banyak puisinya ! keren !

    eh salam kenal, mas

  18. yakhanu berkata,

    Juni 10, 2008 pada 12:09 am

    blog nya bagus…
    salam kenal ya……..

  19. Nana berkata,

    Juni 23, 2008 pada 3:50 am

    bagus banget… ngebaca blog ini nikin hati sejuk… seolah jiwa ini dialiri sesuatu.. izin nge-link yah..? biar bisa sering2 berkunjung… kata demi kata nya indah banget… salam kenal yah… really nice to read ur blog ;)

  20. Lidya Hutagaol berkata,

    Juli 16, 2008 pada 2:07 pm

    akhirnya aku mengerti embun itu.
    semoga tiap tetesnya tetap menyegarkanmu ya bang :)

    thanks untuk pencerahan di pagi, siang dan malam.

    -legra-

Tulis sebuah Komentar