Juni 30, 2008 pada 9:56 am (P U I S I, S O S I A L)
Anak kecil
berlari mengejar debu
Ia lihat bagai kupu-kupu
Tapi perih hinggap di mata
Ia cabuti alisnya
Ia rakit jadi kuas
Ia melukis luka
yang digores sunyi
di hatinya
2003
21 Comments
Juni 15, 2008 pada 5:33 pm (B U D A Y A, BUNYI JIWA, Detak Senja, P U I S I)
Kami telah meletakkan kesedihan, seperti daun-daun tua gugur, tak menggoreskan luka pada pohon. Dan bila kami senantiasa tersenyum dalam rasa sakit, itu janji abadi tumpukan daun menyuburkan tanah, yang tak pernah menyalahkan waktu. Rumput setia bertunas dan diberantas, setulus itu kami menyerahkan jiwa dalam siksa, sebab cinta bukan pohon anggur. Kami memilih bahagia diasingkan, setenang kebun bunga tanpa gulma, sebab orang benar selalu terhina di tanah sendiri. Kami telah melepaskan hak mendapat berkat tanah seperti mawar, sebab teratai telah dipilih Sang Welas Asih. Juga kematian telah kami akrabi sebab tak akan gugur cinta diguncang ajal, takkan habis keajaiban Kidung Agung, takkan runtuh kekekalan Miao Shan.
Siantar, Juni 2008
30 Comments
Juni 9, 2008 pada 6:04 pm (B U D A Y A, BUNYI JIWA, Detak Senja, P U I S I)
malam
merajut cahaya
di matamu
malam
merajut bulan
jadi matamu
bulan di matamu
membasuh luka
di hatiku
10 Juni 2008, 01.05 WIB
38 Comments