Juli 20, 2008 pada 9:16 am (B U D A Y A, BUNYI JIWA, Detak Senja, P O L I T I K, P U I S I, S O S I A L)
MIMPI INDAH
mimpiku
dan
mimpimu
berterbangan
bagai
kunang-kunang
menyalakan lampu-lampu
di kota
yang murung
Pekanbaru 2004
13 Comments
Juli 8, 2008 pada 1:10 pm (B U D A Y A, P O L I T I K, P U I S I, S O S I A L)
Setiap kali mimpi kami mengembara pada malam-malam lengang, dan jejak-jejak kami berpecahan jadi bintang-bintang, kami selalu membangun kota ini jadi kebun dan ladang-ladang semarak. Daun-daun menyalakan warna hijau, melambai memulihkan letih kami, menari mengiringi mimpi yang kerlap-kerlip seperti gemerlap lampu. Dan cahaya melukis harapan-harapan kami jadi bunga-bunga, bermekaran menyalakan taman di sepanjang jalan-jalan yang kami ibadahi.
Maka wewangianpun berhamburan dari pucuk-pucuk rumput, menguapkan aroma sejuk dari peluh dan airmata kami. Dan karena ketabahan kami, embun-embun berkilatan, berpantulan jadi gelombang yang menggemuruhi nafas kami. Geloranya memahat-mahat kedamaian jadi rangkaian bukit-bukit.
Dari kota ini kami manatapnya seperti sedang berkunjung dan membawa doa-doa ke dalam hati kami. Kami temui keheningan dan menjadi takjub: alangkah indah kota kami, tertata rapi dalam mimpi, terawat indah dalam doa-doa. Dan kami makin bergairah menyulam rakaat-rakaat jadi bentangan alam, jadi hamparan sajadah.
Kami lalu membangun istana-istana peristirahatan di sepanjang jiwa kami dan terus membesarkan kota ini dengan mimpi yang menggelora karena doa-doa. Taman-taman kami tanami dengan senyuman. Setiap sudut kami pagari dengan pelangi yang dijemput hati kami dari langit tak berkabut. Asap dan api yang merimbun menyesatkan usia kami ke dalam lindap resah, telah kami halau dengan hujan airmata. Dan hutan-hutan itu telah kembali menjadi kokoh memagari rumah kami.
Dan di langit biru, keriangan kami bersilangan, mengepak-ngepak jadi burung dan mencericitkan tembang-tembang sorga di atas atap-atap rumah kami. Angin berhembus saban waktu, merangkai nyala mentari dan senyum rembulan jadi jembatan. Kami melintasinya sambil bersiul menemani kupu-kupu dan capung-capung, yang membingkai sukacita kami jadi ombak-ombak kecil di sepanjang sungai yang mengalir tenang di rongga darah kami. Seperti seruling gembala di padang-padang hijau, kebahagiaan kami melengking, mengirimkan nyanyian ikan-ikan dari dasar sungai yang mengekalkan batu-batu jadi keheningan di jiwa kami. Dari dasar laut yang mengokohkan karang-karang jadi ketabahan di hati kami.
Tapi, setiap kali kami terjaga, kota dan tanah kami selalu pecah. Taman, kebun dan ladang-ladang memuing, terbang jadi debu, harapan dan mimpi-mimpi kami tersesat. Tapi kami selalu menguntai doa-doa dan berdamai dengan resah yang mendera di hati kami agar rumah kami bisa membesar jadi sarang damai
Pekanbaru, 2003
16 Comments
Juni 30, 2008 pada 9:56 am (P U I S I, S O S I A L)
Anak kecil
berlari mengejar debu
Ia lihat bagai kupu-kupu
Tapi perih hinggap di mata
Ia cabuti alisnya
Ia rakit jadi kuas
Ia melukis luka
yang digores sunyi
di hatinya
2003
21 Comments