Peniup Harmonika

Perempuan itu duduk di sebuah bangku taman, meniup harmonika, seperti sedang berusaha mengalirkan kesedihan dari setiap tarikan nafasnya.

***

Dini hari. Ponsel di atas meja berdering. Memecah sunyi kamar. Perempuan pincang yang sedang lelap di atas ranjang, tersentak dari mimpinya, lalu turun dengan tertatih-tatih, meraih ponsel. Di luar, gerimis mendesis. Ayam jantan kesiangan berkokok. Perempuan itu menempelkan ponsel di telinga kanannya. “Halo,” katanya dengan suara berat.
Ia dengar suara lelaki itu, tersendat, serak dan patah-patah, “Istriku, ini aku. Aku terluka. Dadaku di tendang. Besok aku pulang. Jangan ke mana-mana, ya!”
Ponsel ditutup. Perempuan pincang menggelegak darahnya, bangkit amarahnya. Mulutnya menguarkan kutuk. “Suamiku tak pantas dilukai, tak pantas disakiti. Di mana Tuhan. Di mana kemanusiaan. Di mana hati. Di mana nurani.” Perempuan itu meracau. Matanya menggelindingkan air. Nafasnya sesak. Gerimis di luar makin rimbun. Sunyi.

***

Disebut apakah sebuah kisah yang bermula pada suatu malam?
Ini di sebuah kota. Kota yang salah menata diri. Kota yang terasa udaranya menyesakkan dada. Kota yang memiliki musim tambahan dalam perjalanannya: musim asap. Di bangku sebuah taman, seorang lelaki meniup harmonika, memainkan lagu-lagu sedih, seperti sengaja menikam malam. Dan seorang perempuan muda, berkaki pincang, bermata bulan, terseok-seok menghampirinya.
“Selamat malam, boleh aku duduk bersamamu? Aku tersentuh mendengar suara harmonikamu.”
Lelaki itu menatap perempuan itu dengan mata yang malas. “Silahkan,” katanya, lalu kembali memainkan harmonika. Lagu-lagu syahdu kembali mengalir, membasahi malam yang kering dibakar cuaca. Asap meruapkan aroma hutan yang terbakar di segenap taman. Dan lelaki itu larut, hanyut diseret nada-nada.
“Aku suka suara harmonika, tapi tak pernah bisa memainkannya,” kata perempuan itu, menatap sayu pada lelaki itu. Lelaki itu tak menjawab. Bergeming seperti sedang masuk ke dalam dirinya yang lain. Perempuan itu memancing lagi, “Sudah larut, apa tidak sebaiknya kita pulang?”
Lelaki itu tersentak. “Aku belum ingin pulang. Aku masih ingin menikmati malam.”
“Tapi cuaca sedang buruk. Kau lihat asap itu, parumu bisa rusak.”
Lelaki itu terperangah, ia tatap perempuan itu. Perempuan itu juga menatapnya, tatapan yang sungguh-sungguh peduli, bukan basa-basi. Sudah lama rasanya ia tidak pernah bertemu lagi dengan mata yang menunjukkan kepedulian seperti itu. Tiba-tiba tangannya bergerak, menjulur ke arah perempuan itu, “Namaku Lasido,” katanya. Perempuan itu menyambut uluran tangannya dengan hangat, dan menyebut namanya: Soniya.
“Aku sudah sejak sore di taman ini. Tadi kulihat kau datang dengan harmonikamu,” kata perempuan itu. Lelaki itu tersenyum.
“Rumahku agak jauh dari sini, terlalu jauh untuk disusuri dengan jalan kaki,” kata perempuan itu, “Tadi kulihat kau datang dengan sepeda motor. Boleh aku minta tolong kau antar pulang? Sebenarnya, aku merasa risih juga meminta orang mengantarku, apalagi orang yang tidak kukenal. Tapi hari ini nasibku sial. Tadi preman-preman jalanan itu datang menghampiriku, meminta sejumlah uang, tapi aku tak punya. Mereka pikir aku berbohong, mereka mengambil tongkatku. Kau tahu, aku tak bisa jalan tanpa tongkat itu.”
Lelaki itu segera tahu bahwa perempuan itu pincang. “Jika begitu, ayolah, kuantar kau.” Ia menghidupkan motornya, menyuruh perempuan itu naik ke boncengannya. Selama perjalanan, tak ada percakapan yang berlangsung antara mereka. Hanya deru mesin motor yang terdengar, juga suara klakson yang sesekali menjerit. Lalu, setelah sampai di sebuah persimpangan, perempuan itu bersuara, “Belok kiri, ya!”
Setelah sampai, perempuan itu turun dari motor, mengucap terimakasih, lalu berjalan tertatih-tatih menuju rumahnya. Lelaki itu terpaku sejenak, melihat perempuan itu terseok-seok. Hatinya goncang. Jiwanya luka. Ia teringat bapaknya. Bapaknya yang pincang setelah berhasil melarikan diri dari bekapan tentara, pada suatu masa, ketika semua label komunis dan kata ‘terlibat’ terdengar angker, dan harus dimusnahkan. Lama lelaki itu memandang rumah yang menelan tubuh perempuan itu. Rumah kecil yang sederhana, pikirnya.
Kisah berlanjut keesokan harinya. Ketika terbangun, pikiran lelaki itu ziarah, pergi membayangkan perempuan pincang. Dan ia segera bersiaga, bermaksud menemui perempuan itu. Ketika sampai di rumah perempuan itu, ia ketuk pintunya berkali-kali, dan wajah perempuan itu menyembul dari balik pintu yang berderit. Matanya memerah, rambutnya kusut masai, tapi mendadak menjadi berbinar ketika ia sadar bahwa yang datang adalah lelaki itu. “Kamu? Ayo, silahkan masuk!”
Lelaki itu tersenyum. Perempuan itu lalu pamit untuk mandi. Pada saat itulah lelaki itu punya kesempatan menyerbu seisi rumah dengan matanya yang bulat; segelas kopi dan beberapa potong roti tanpa selai terhidang di atas meja; rak yang berjejal dengan banyak buku; dinding yang penuh tempelan lukisan, dan ia kagum menatap sebuah lukisan tentang seorang wanita yang menggendong anak dan berlari menjauhi api yang mendekat ke arah sebuah rumah.
Perempuan itu tiba-tiba muncul. “Itu lukisan tentang suku terasing yang terusir oleh api,” katanya.
Lelaki itu diam. Dengan sedikit kikuk, ia meneruskan keasyikannya mengamati seisi rumah. Sebuah komputer butut menyala di sudut ruangan. Screen-saver-nya yang terdiri dari beberapa huruf, bergerak-gerak secara zikzak. Lelaki itu kaget, kata yang dibentuk huruf-huruf itu adalah namanya: Lasido. Ia tatap perempuan itu. Perempuan itu balik menatapnya, gugup sambil berkata, “Nama seorang lelaki yang kukagumi. Ia seorang pendidik dan penulis. Aku kagum pada perjuangannya, dan aku selalu mengikuti tulisan-tulisannya tentang pendidikan di koran-koran.”
Lelaki itu tercengang. Ia merasa, ada sesuatu yang disembunyikan perempuan itu. Ia tatap lagi perempuan itu. Kali ini perempuan itu mengelak. Tapi itu lelaki mendekat ke arahnya, menyentuh bahunya, dan berkata, “Kurasa, kau sudah mengenalku.”
“Tidak.”
“Kau bohong. Siapa kau sebenarnya?
“Aku adalah aku,” jawab perempuan itu sekenanya. Mendadak lelaki itu merasa risih, tapi sedikit bangga. Ia bertemu dengan seseorang yang justru sudah mengenalnya. Apakah ini sebuah peruntungan, ataukah sekedar peristiwa kebetulan?
“Katakan, siapa kau sebenarnya,” Ia memohon kepada perempuan itu.

***

Seorang perempuan, Lasido, tak selalu punya keberanian untuk bicara tentang sejarahnya. Tapi, barangkali, tak semua endapan peristiwa mesti terbiar. Tak semua daun rontok hadir sebagai isyarat ajal bagi pohon-pohon. Seperti bunga, layu dan mekar adalah warna perjalanan. Dan tentang aku, kepadamu harus kukisahkan. Aku adalah perempuan penggerutu, tukang mengeluh bahkan pada apa yang telah kudapatkan dengan sempurna. Aku lahir dari seorang ibu yang malang, di sebuah bandar kecil tempat kau bisa bertanya pada lumut tentang sejarah yang mengendap. Atau, cukup punya artikah bagimu tubuh gempal kul-kuli pelabuhan? Di pundak mereka ada sejarah kemiskinan. Begitulah, Lasido, aku lahir berayahkan lelaki kuli, di antara peluit kapal dan kepak burung-burung walet mengitari tiang-tiang pelabuhan. Aku tumbuh dan besar seperti ombak yang bercerita tentang gairah laut. Tetapi, punya makna apa laut bagimu? Apakah laut serupa maut? Sebab ayahku telah direnggutnya, pada suatu masa, ketika aku belum ingat aku ada. Dan bagiku, hal itu memedihkan benar. Pedih karena nyawa dipertaruhkan untuk hidup yang terkalahkan. Kami sebenarnya punya leluhur yang jaya. Hutan dan segala isinya konon adalah milik mereka. Tapi, sejarah telah merampas segalanya dari tangan mereka, sehingga kami harus menyingkir ke bandar-bandar demi bertahan hidup. Dan hingga kini, perampasan itu tidak juga berakhir. Kau lihat kan, kota kita masih selalu dikerubungi asap. Belajar dari itu, aku ingin berbuat sesuatu yang baik bagi tanah kami. Delapan tahun yang lalu, ketika aku baru saja merampungkan studiku, aku bergabung dengan sebuah LSM yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan. Tetapi, kenapa niat baik selalu dihadapkan pada kekerasan? Kakiku tertembak pada suatu hari ketika rombongan kami masuk ke wilayah suatu perusahaan yang membuang limbah beracun.

***

Lelaki itu seorang pendidik. Ia rela masuk ke desa-desa terpencil untuk mengajar anak-anak suku terasing. Bertahun-tahun ia bergelut dengan dunia yang menyedot usianya. Lalu, ketika perjuangan samasekali tidak mendapat perhatian dari pemerintah, ia kembali ke kota. Dan dari pengalamannya mendidik selama bertahun-tahun di pedesaan, ia memutuskan diri jadi penulis, terutama hal-hal yang menyangkut dunia pendidikan. Lalu, ia bertemu dengan Soniya, perempuan yang pincang karena hukum yang mandul.

***

Lelaki peniup harmonika menikah dengan perempuan pincang: Lasido dan Soniya. Sepasang manusia berhati besar tapi dikerdilkan sejarah. Tetapi, seperti air mengalir, sepasang manusia berhati besar itu tak berhenti memperjuangkan kebenaran. Untuk melanjutkan perjuangan istrinya, lelaki itu pergi lagi ke desa-desa, memberi bantuan moral dan pikiran kepada suku-suku terasing, agar mereka menuntut balik tanah mereka yang dirampas untuk mendirikan perusahaan-perusahaan raksasa. Tetapi, keesokan hari setelah ia menelepon istrinya, lelaki itu pulang tanpa nyawa, seperti janjinya. Dan perempuan itu harus berhadapan lagi dengan hukum yang mandul, mengusut kematian suaminya.

***

Perempuan itu masih tetap meniup harmonika, taman semakin sepi, dingin kian menggigit. Tapi ia hanya bisa mendesah, “Ah, Lasido, perempuan tak selalu punya keberanian untuk bicara tentang sejarahnya. Tapi, barangkali, tak semua endapan peristiwa mesti terbiar. Tak semua daun rontok hadir sebagai isyarat azal bagi pohon-pohon. Seperti bunga, layu dan mekar adalah warna perjalanan. Dan tentang aku, kepadamu harus kutanyakan, kuatkah aku sebagai perempuan untuk terus berjalan memikul kebenaran? ***

PEKANBARU, 2004

Rapsodi untuk Sergio

Cerpen Pandapotan MT Siallagan

 

            Dia hanya meringis. Jeritan dan erangan mungkin haram bagi seorang tentara yang tertembak. Itu akan membuat musuh mengendus, menemukan lalu menyiksanya lebih jauh. Atau barangkali dia ingin menunjukkan bahwa lelaki hebat tak perlu menangis, meski bedil merontokkan badan. Dia menatapku. Aku bergetar. Darah mengucur dari daging paha dan betisnya yang bocor.

            Aku teringat sebuah peristiwa. Peristiwa yang melibatkan ibunya. Entah apa yang akan terjadi jika wanita itu tidak membawaku ke bidan desa. Waktu itu, aku baru pulang dari sekolah dan menemukan rumah kami tertutup rapat. Aku memanggil-manggil bapak dan emak, tapi tak ada sahutan. Aku pergi ke ladang yang berjarak tak jauh dari rumah kami, tapi bapak dan emak juga tak ada. Aku kembali, lalu memanjat jendela untuk melongok ke dalam rumah dan kreeek…, paku itu terinjak sempurna. Aku meraung dan terjerembab dengan posisi telentang. Kulihat langit berputar-putar. Dunia kiamat.

            Ketika siuman, aku terbaring dengan kaki dibalut perban. Seterusnya kuketahui bahwa wanita itu terbangun dari tidur siangnya karena mendengar aku meraung-raung. Sebaik menemukanku terkapar dengan telapak kaki berselekeh darah, dia menangis dan langsung menggendongku ke Puskesmas.

            “Darah banyak muncrat dari kakimu. Istirahatlah! Bapak dan emakmu pergi ke Riau. Katanya bibimu meninggal. Riau itu jauh, maka itu kau tak diajak, agar sekolahmu tak terganggu. Aku diminta menjagamu selama mereka di sana. Kunci rumah juga dititip. Tenangkan saja hatimu, ya Nak!”.

            Aku menangis. Bukan lagi untuk rasa sakit di kakiku, tapi untuk bauran rasa haru atas kebaikan wanita itu dan ingatan pada Bibi Sonti. Bibi Sonti adalah adik bapak paling bungsu. Meski tak utuh, seingatku, Bibi Sonti sangat baik. Dia sering datang ke kampung kami sebaik tamat SMP dan selalu membawaku permen. Dia akhirnya merantau ke Pekanbaru mengikuti jejak keluarga jauh. Di sana dia bertemu dan menikah dengan lelaki yang tak pernah kukenal. Sesekali bibi berkirim kabar lewat surat, bercerita tentang kehidupan mereka yang sangat sulit, juga tentang kondisinya yang sering-sering sakit. Suaminya memang memboyongnya menggarap hutan di jalan lintas Pekanbaru-Rengat yang penuh abu dan jerebu. Aku tahu, setiap menerima surat dari bibi, bapak selalu menangis diam-diam. Airmataku menderas jadi sungai. Tak terima kehidupan bibi yang baik berakhir sepedih itu. Dia masih sangat muda. “Tak usah menangis. Kau akan baik-baik saja. Bapak dan emak tak akan lama. Kau harus sembuh ketika mereka pulang.”

            Kurasakan tangan wanita itu mengusap kepalaku. Sejuk, damai, sakit, sedih, kecewa dan pilu bercampur mengaduk-aduk hatiku. Aku lelah dan tertidur. Ketika bangun, wanita itu ada di sampingku. Dia menghibur jika aku menangis. Dia memanggil bidan jika aku meringis. Dia menyuap ketika aku lapar, mengambil teh ketika aku haus. Aku berani bertaruh, tak akan kau temukan lagi seorang wanita yang sanggup memberikan kebaikan total serupa itu kepada anak yang bukan buah hatinya.

            Tiba-tiba aku rindu pada wanita itu, bercampur dengan rasa sakit menyaksikan putranya menderita dan kehilangan masa depan. Tak kuat melihat putranya diseret secara kasar oleh petugas menuju rumah sakit untuk menjalani perawatan dan mengeluarkan dua butir peluru yang bersarang di betis dan pahanya. Untuk pertama kali sejak menjalankan profesi sebagai jurnalis, aku berdoa semoga Tuhan menyelamatkan pelaku kejahatan ini.

            Ah, sejak kapan dia jadi penjahat? Mungkin sejak ponselku berdering pukul 03.40 dini tanggal 13 bulan Maret itu. Dengan mata berat, aku mencoba bangun dan kulihat di layar ponsel tertera nama Amoral. Amoral adalah nama sebutanku pada Manombang T, ajun komisaris polisi yang menjabat kepala satuan reserse kriminal di kepolisian resor di daerah kami. Aku memberi nama itu karena dia suka mabuk, dan gampang main tangan kepada kekasih-kekasih gelapnya. Kesimpulan percakapan, aku harus meluncur ke sebuah kawasan perumahan mewah.

            Tapi setiba di lokasi, tak kusaksikan lagi drama itu. Manombang T dan anak buahnya sudah memborgol dua lelaki bertubuh tegap dan dimasukkan dengan kasar ke mobil kerangkeng. Tubuh kedua pria itu bermulur darah. “Kau terlambat, Sayang! Tembak menembak tadi sangat seru. Anjing-anjing ini melawan. Empat orang lolos, tapi tak apa. Anjing yang dua ini akan kita paksa bicara.”

            Manombang lalu bercerita, memberikan keterangan pers tepatnya. Dua orang ‘anjing’ bertubuh tegap yang dibekuknya itu, adalah anggota komplotan perampok antar provinsi spesialis perkebunan. Mereka terlibat dalam hampir semua kasus perampokan gaji karyawan. Mereka pembunuh berdarah dingin dan tak segan-segan menghabisi nyawa korbannya. Komplotan ini sangat piawai membangun jaringan dan menyusup ke tubuh manajemen sejumlah perkebunan, baik swasta maupun milik Negara. Jadi, mereka mengetahui secara persis jadwal gajian. Ketika bagian keuangan atau bendahara kebun mengambil uang dari bank, mereka mengintai dan melancarkan aksi secara brutal.

            “Makanya kita heran, kenapa mereka ini melakukan perampokan di kawasan perumahan mewah. Mereka inilah yang disebut komplotan Babiat Cs. Anggotanya lebih dari 30 orang dan dibagi dalam lima kelompok. Hasil rampokan akan disetor kepada komandan bernama Babiat, lalu dibagi kepada semua anggota. Yang berambut cepak itu namnya Parulian alian Kodok alias Bunting alias Sordam! Yang botak itu Iwan alias Mulle alias Kadal,” beber Manombang T bangga.

            Aku tiba-tiba merasa mual dan pening mendengar penjelasan itu.

            “Kenapa? Apa kau tak suka berita ini? Koranmu akan laku besar.”

            “Bukan aku tak suka, tapi….!”

            “Tapi apa?”

            “Aku tak enak badan!”

            “Lagi datang tamumu? Ha…ha…!”

            Aku diam. Parulian alias Kodok alias Bunting alias Sordam, tak satupun nama itu benar. Aku pergi meninggalkan tempat itu dan pulang ke rumah kontrakanku.

 

***

 

            Namanya Sergio Batakov. Tentang nama aneh ini, dia pernah bercerita bahwa bapaknya terobsesi pada Soviet, juga serpihan-serpihannya yang mewarnai perjalanan sejarah perang dan tragedi kemanusiaan. Bapaknya ingin dia jadi jantan yang punya keberanian militan seperti tentara pemberontak Checnya. Umur lima tahun, kepadanya telah diajarkan ‘kekerasan’ seperti mengangkut kayu bakar dari hutan, memundak jagung dari ladang, mencangkul di sawah dan berburu di hutan. Ibunya hanya bisa menangis, sebab dia tak berani membantah suaminya. Alih-alih memahami, suaminya justeru akan membentak jika dia memohon agar anaknya jangan dipaksa terlalu lelah. Dia masih kecil.

            “Tapi untunglah dia meninggal,” kata Sergio Batakov, “sebab selain menindasku dengan cara-cara seperti itu, dia juga kerap menampar ibu di rumah. Sering mengamuk tanpa alasan yang pasti. Hanya itu memang sifat buruknya. Dia toh sangat rajin bekerja, tak pernah mabuk-mabukan apalagi berjudi. Menurutmu apa aku salah mensyukuri kematiannya?”

            Aku tertegun dan merasa gerun. “Mungkin salah. Kukatakan mungkin karena bisa saja ayahmu berubah dan menjadi sangat baik seandainya tidak meninggal,” kataku.

            “Iya juga ya?”

            Waktu itu kami kelas 6 SD. Tragedi paku dan kematian Bibi Sonti telah mendekatkan kami dua tahun belakangan. Dia menjadi seperti abang bagiku. Aku menjadi seorang adik baginya. Kami selalu bersama ketika pergi dan pulang sekolah. Dan kabar kematian bapaknya kami terima saat jam istirahat sekolah. Seseorang datang tergopoh-gopoh dan memberitahu hal itu kepada kepala sekolah, lalu mengajak kami pulang. Aku terhenyak, merasa ada yang hilang. Sergio Batakov hanya diam dan kaku mengemasi buku-buku dan peralatan sekolah ke dalam tas, lalu bergegas. Aku mengikutinya tapi tak berani mengajaknya bicara. Aku hanya menunjukkan isyarat peduli dengan mengayun langkah lebih cepat.

            “Tak usah buru-buru. Semua orang akan mati kan? Dia beruntung duluan.”

            Bukannya bersedih, sepanjang jalan Sergio Batakov malah bicara tentang banyak hal, tentang bapaknya yang selalu disebutnya ‘dia’, juga tentang cita-citanya.

            “Aku ingin jadi polisi atau tentara. Bukan karena dia mengajarku dengan keras, tapi karena memang sudah cita-citaku. Kau tahu, selain harus kuat dan tangguh, polisi dan tentara harus pintar. Siasat dan strategi perang adalah pelajaran paling sulit, sebab di sana ada upaya melawan Tuhan. Mati dan hidup manusia urusan Tuhan, tapi polisi dan tentara sering mengambil alih urusan itu. Kau lihat sendiri kan, dia mati karena ulah polisi dan tentara. Tapi aku tidak mau jadi tentara dan polisi jahat.”

            Aku tak tahu apakah perkataan Sergio Batakov benar. Tapi saat itu ada orang kota datang merampas lahan dan hutan milik leluhur kami untuk dijadikan perkebunan. Bapaknya termasuk orang yang melakukan perlawanan dan berhasil mempengaruhi orang-orang desa untuk tidak menjual tanahnya.

            Setiba di rumah, aku lihat Sergio Batakov tak mampu mempertahankan kebencian pada bapaknya. Dia menangis juga di hadapan jenazah, meski hanya sebentar. Sewaktu jasad itu dibawa ke kota untuk otopsi, dia memilih pergi memancing. Sore harinya, dia memintaku memasak ikan hasil pancingan itu dan kami makan berdua. Malam hari, orang-orang kembali dari kota membawa jasad bapaknya. “Kau lihat, dia sudah jadi mayat tapi tetap menyusahkan,” katanya.

            Sergio Batakov tak ikut mengantar bapaknya ke pemakaman.

            Selanjutnya, situasi kembali tenang. Orang kaya dari kota itu gagal membuka perkebunan di daerah kami. Kematian ayah Sergio menyebar dan kami dengar diberitakan juga di koran-koran. Selama beberapa lama, sejumlah warga kampung berkali-kali dibawa ke kota untuk bersaksi di kantor polisi dan persidangan. Tapi aku dan Sergio Batakov tak peduli hal itu. Seperti biasa, kami pergi ke sekolah dan selalu bersama. Sergio sedikit terganggu dengan guncingan tentang kematian bapaknya, tapi tak sampai membuatnya kehilangan semangat.

            Kami akhirnya tamat SD. Itu merupakan masa-masa sulit. Aku sangat sedih berpisah dengannya. Aku dikirim sekolah ke Kota Medan, numpang di rumah bibi. Sementara Sergio pergi jauh ke Lampung, mengikut saudara sepupunya yang telah berhasil menjadi pedagang pengumpul karet. Kami bertukar kabar lewat surat, sampai kelas satu SMA.

            Tapi suatu malam saat liburan, ibunya datang ke rumah kami, bercerita tentang kesedihannya, sebab anaknya tak mau pulang. Tak hanya itu, Sergio ternyata sudah meninggalkan sekolah dengan alasan tidak tega membebani ekonomi saudara sepupunya yang tergantung pada harga lateks.

            “Aku ingin bekerja, cari uang banyak-banyak, agar bisa membahagiakan emak,” begitu surat Sergio pada ibunya. Ibuku mengatakan bahwa semua orang berhak menentukan jalan masing-masing. Dan setiap jalan itu belum tentu buruk, meski kita tahu bukan jalan yang baik. Bapakku melengkapi dengan berkata bahwa hidup bukan hanya soal harapan, tapi juga pertaruhan menerima keputusan-keputusan yang melukakan. Kesedihan itu berlangsung sebentar. Selanjutnya hukumanku.

            “Atau supaya dia pulang, kalian bertunanganlah. Dia sepertinya sangat menyukaimu. Akan kuminta dia menunggumu hingga tamat SMA. Mau kau?”

            Aku merasa disengat listrik. Bapak dan emak tersenyum. Mungkin tak tahan melihatku menderita dalam kikuk, emak akhirnya menyelamatkan dengan berkata, “Tak usah kau pikirkan. Bibimu hanya bercanda.”

            Sebenarnya aku bahagia. Kami sudah pacaran sejak kelas satu SMP. Tak bisa kuhitung berapa puluh lembar surat dikiriminya untukku dari Lampung. Juga tak bisa kuhitung berapa ribu kata dan harapan pernah kukirimkan padanya.

            Ketika aku tamat SMA, Sergio sudah berhasil. Tapi dia tidak lagi pernah menghubungiku. Aku berpikir, dia sudah angkuh dengan keberhasilannya. Dia sudah mampu mengirim uang setiap bulan kepada emaknya, bahkan membangun gubuk bambu jadi rumah beton berlantai keramik. Sangat mewah untuk ukuran kampung.

            Aku kuliah, dan pulang sebaik tamat. Bapak dan ibu sebentar merasa bahagia. Tapi ketika kukatakan keputusanku untuk bertani saja di desa, bapak dan ibu kecewa dan marah besar. Mereka ingin aku tinggal dan bekerja di kota, seperti Sergio.

            “Betul kata bapak-ibumu. Masa tak bisa? Anakku saja yang hanya tamat SMP bisa. Lihatlah, rumah ini bisa dibangun dari hasil jerih payahnya. Yang penting rajin berdoa. Kalau tidak, mana bisa dia bekerja di perkebunan dan sekarang dipromosikan menduduki jabatan lebih tinggi. Kau tahu kan, dia sudah punya mobil. Rumahnya juga sudah ada di kota.”

            Saat itulah aku mulai benci kepada Soada Ria, ibu Sergio itu. Tapi aku tak menyalahkan dia. Wajar, sebab hanya anaknya satu-satunya yang berhasil. Dan hingga saat itu, hanya aku satu-satunya yang berhasil jadi sarjana.

            “Tiru anak tetangga itu. Hanya tamat SMP, tapi bisa kaya. Apa tak malu kau dikalahkan anak yang tak sekolah?”

            Hal itu dikatakan bapak berulang-ulang. Aku muak dan pergi ke kota kecil sekira 100 kilometer dari kampung kami. Sebuah koran lokal akhirnya menerimaku jadi wartawan yang, sumpah mati, tak pernah terlintas dalam bayanganku sejak kecil.

            Saat tersadar, aku menemukan diriku menangis. Benar-benar menangis. Melalui telepon, kuputuskan minta cuti selama dua minggu dari kantor. Kukatakan ibuku sakit keras. Bosku setuju. Mungkin karena mendengar tangisku. Setelah itu, kubuka lemari, kubongkar dan kukeluarkan semua surat dan foto-fotonya, kubakar berteman tangis. Lalu aku pulang. Setiba di kampung, orang yang pertama sekali kutemui adalah ibunya. Aku memeluknya sambil menangis.

 

Pematangsiantar, November 2007

Antologi Cerpen Riau Pos 2007

Tahun 2007, Harian Riau Pos sebagai koran terbesar di Riau, menerbitkan buku Kumpulan Cerpen Riau Pos 2007 bertajuk Keranda Jenazah Ayah. Buku ini berisi 24 cerpen dari 24 cerpenis dari Sumatera Barat (Sumbar), Jakarta, Jogjakarta dan Kanada, meski sebagian besar memang berasal dari Riau yang intensitasnya dimuat di Riau Pos lebih banyak ketimbang cerpenis lainnya. Beberapa penulis Riau yang cerpennya masuk dalam buku ini antara lain Olyrinson, Aleila, Dessy Wahyuni, Musa Ismail, Nyoto, Murparsaulian, Sobirin Zaini, M Badri, Pandapotan MT Siallagan, Ellyzan Katan, Fariz Iksan Putra, Sutrianto, Gde Agung Lontar, Ranti A, Saidul Tombang dan beberapa nama lainnya.

Berikut telaah atas buku ditulis seorang teman, Gde Agung Lontar. Tulisan ini merupakan bagian kedua dari 2 tulisan yang dapat dilacak di internet, sementara tulisan bagian pertama tidak terlacak. Tulisan ini dikutip dari Riau Pos Edisi Minggu, 3 Februari. Moga berguna.

Telaah Buku Kumpulan Cerpen “Keranda Jenazah Ayah

Oleh Gde Agung Lontar

Cerpen dengan metafora yang cukup kuat juga muncul dalam “Kurap” karya Nyoto. Dengan agak-agak perasaan geli-geli jijik saya membaca cerpen ini, dan makin menjadi-jadi ketika merayap ke daerah pantat. Tetapi Nyoto mungkin tidak peduli seperti katanya, “Dikau ni budak kecik, apalah tau rasa sedap orang”. Sepanjang pengamatan saya, Nyoto sepertinya memang suka meneror pembaca dengan cerpen-cerpennya; mudah-mudahan kalau dia ada di sini dia tidak akan meneror saya pula dengan pertanyaan-pertanyaannya. Tetapi, terus terang, saya merasa agak kehilangan “Segerombolan Anjing”.

Membaca cerpen-cerpen Olyrinson entah kenapa selalu serasa menyesakkan dada dan tak jarang dengan keharuan yang mendalam. Demikian juga yang dapat kita simak dalam “Keranda Jenazah Abah” ini. Padahal saya tergolong seorang yang pembosan. Cerpen-cerpen Oly hampir selalu bertokohkan anak kecil, orang tua yang sengsara, dan perusahaan besar yang membuat mereka semua menjadi sengsara. Plot yang hampir selalu serupa dalam berbagai cerpennya, sesungguhnya berpotensi untuk membuat saya bosan. Tetapi entah sihir apa yang digunakannya, itu ternyata tidak terjadi. Rangkaian kata-kata, bar dan irama yang bagai ditata tangan-tangan magis, membuat saya tetap terpesona. Ini bukan hiperbola. Kata kuncinya mungkin terletak pada pencapaian estetika, meskipun secara sederhana. “Keranda Jenazah Abah” sekali lagi menunjukkan siapa Oly.

Rumahku untuk Pulang” karya Pandapotan MT Siallagan adalah cerpen yang terkesan menjebak. Alur dan teknik penceritaan yang dikembangkan seperti mengarahkan kita pada unsur-unsur romantisme sekaligus heroisme, namun di akhir cerita pembaca dibanting dengan semacam pengkhianatan yang hampir-hampir tidak logis dengan jalan cerita yang telah dibangun. Sementara itu Ragdi F Daye dengan “Lantai Hotel untuk Menangis” sesungguhnya mengandung sinisme terhadap fenomena yang berkembang belakangan ini. Yaitu acara-acara yang bersifat religius di hotel-hotel berbintang, zikir-zikir bersama, atau acara yang berhubungan dengan penyembuhan kejiwaan. Kegiatan-kegiatan yang sesungguhnya banyak yang mengandung kontradiksi dan kepalsuan.

“Ketika di Selatpanjang” karya Ranti A sesungguhnya berpotensi untuk menjadi cerpen yang cukup menarik. Gaya penceritaannya yang sederhana, dengan alur yang terasa cukup lancar, membuat pembaca merasa cukup nyaman membacanya. Sayangnya konflik yang dibangun terasa kurang jelas. Sementara itu “Buaya Itu Telah Mati” karya Rita Achdris menariknya mengandung unsur parodi dalam metaforanya. Dan Saidul Tombang dengan “Mumbang” adalah penurunan yang cukup tajam dibandingkan “Salsa”. Dengarlah opening “Salsa”: Berceritalah kepadaku tentang ketulusan, selaik putihnya putik melati dan cahaya pagi tanpa renda jelaga. Kisahkan juga kepadaku tentang indahnya cahaya bulan setaji ayam…

Sobirin Zaini dengan “Dendam Abah” kalau di masa Orde Baru bisa dituduh provokator. Cerpen ini seperti menyarankan perlawanan kepada penguasa (yang lalim), meskipun sayangnya dengan cara main belakang. Konflik yang dibangun pun kita sudah mengenal secara umum: “Tapi, tidak demikian halnya bagi mereka, bagi para pengayuh becak seperti Abah Khalid dan kawan-kawannya, kekayaan yang melimpah itu sampai saat ini seperti tak pernah dirasakan. Kekayaan negeri itu hanya sebuah dongeng. Dongeng yang mereka dengar dari mulut orang-orang. … Karena kenyataannya, semua yang dibanggakan itu tak dapat mensejahterakan rakyat ….”

Cerpen “Kawin” karya Sutrianto tiba-tiba memberikan suasana yang berbeda. Tampil dengan kalimat-kalimat ringkas atau bahkan tak lengkap, cerpen ini membuat kita seperti manusia yang terbata-bata. Sesungguhnya ini cerpen berpotensi untuk menjadi cerpen suasana; tingggal 2½ angka lagi mungkin ia dapat mencapai tingkat “Seribu Kunang-kunang di Manhattan”. Sayangnya konflik yang dibangun seperti terasa dibuat-buat, dengan beberapa tindak kekerasan yang membuat pembaca merasa kurang nyaman.

Untuk Syaifuddin Abdullah dengan “Laut Ini, Pernah Marah!”, selamat datang juga. Sedang “Bus Misterius”-nya Syafrizal Sutan Malano mungkin lebih tepat dimuat di majalah Misteri atau Liberty, misalnya. Bukan dengan maksud ingin mengatakan bahwa tema misteri terlarang dalam ranah sastra, tetapi hanya masalah pencapaian estetika. “Tiga Pertapa” dari Leo Tolstoy juga cerita misteri, tetapi ada sesuatu yang membuat kita berkontemplasi. Demikian juga dengan cerpen-cerpen Budi Darma dan Danarto misalnya, sesungguhnya juga mengandung unsur misteri.

Epilog

Entah kenapa sejak pertama kali melihat buku antologi ini saya tidak bisa menahan hati untuk memberinya judul “Jenazah ‘Keranda Jenazah…‘“. Entah kenapa pula dalam pembahasan buku ini saya juga tidak mampu menahan hati untuk menulis yang langsung menohok kepada masing-masing person, padahal engkau tahu hal yang seperti itu akan sangat berbahaya. Siapakah engkau, Gde? Apakah engkau memang memiliki hak untuk melakukan itu semua? Apakah engkau memiliki latar belakang ilmu sastra yang mumpuni, atau paling tidak orang-orang telah mengangkatmu sebagai seorang juri? Padahal engkau tidak mengerti apa-apa, tidak tahu teori-teori sastra, apalagi hingga masuk ke dalam wilayah linguistik.

Entah kenapa supaya “aman” saya juga tidak mampu membuat tulisan seperti yang dilakukan Abel Tasman, Fakhrunnas MA Jabbar, Marhalim Zaini, atau pun Griven H Putra sekadar menyebut beberapa nama yang “hanya” bergerak di tataran bunga-bunga, kembang-kembang, hiasan, relief, ornamen; lalu menggabungkan inti berbagai karangan itu seolah-olah ingin menunjukkan inilah kelebihan dan kehebatan cerpen-cerpen Riau, atau paling tidak yang dimuat di Riau Pos. Terus terang saya sudah berusaha mencobanya dalam waktu yang sempit itu, mencari kembang, hiasan, ornamen; yang kiranya dapat dirangkai-rangkai menjadi bangunan yang indah. Mohon maaf, saya tidak berhasil menemukan itu di sini.

Saya tidak setuju ketika dalam pengantar antologi 2006-nya HBK menulis bahwa “… karena dalam sastra, kualitas sebuah karya amatlah sumir dan relatif”. Untuk beberapa segi kualitas sebuah karya sastra terasa jelas dipampangkan; atau dalam beberapa kejadian tidak begitu kelihatan. Dalam perlombaan, dalam sayembara, dalam antologi pilihan, hal itu terlihat cukup nyata. Pengasuh rubrik sastra di media mau tak mau akan memilih yang dianggap terbaik dari puluhan atau bahkan ratusan karya-karya yang datang dalam periode itu. Lalu kenapa ada perbedaan nuansa kebanggaan ketika sebuah karya dimuat di Kompas dibandingkan di koran daerah, misalnya; atau di Horison berbanding Aneka, misalnya. Semua kebanggaan itu jelas karena berkaitan bahwa seorang pengarang itu sudah berhasil mencapai tingkat tertentu dalam berkarya yang diakui dengan termuatnya karyanya pada media yang membanggakan itu.

Sutardji Calzoum Bachri (SCB) bahkan menyatakannya dalam bentuk pernyataan negatif beberapa puluh tahun yang lalu. Dalam esai berjudul “Beberapa Penyakit dalam Cerpen Indonesia” yang termuat dalam buku Cerpen Indonesia Mutakhir (ed. Pamusuk Eneste, 1983), SCB menulis ada empat kriteria penyakit dalam cerpen Indonesia, yang dengan demikian mau tak mau akan merujuk kepada kualitas suatu karya. Untuk kepentingan kita semua, mungkin ada baiknya saya kutip secara ringkas keempat kriteria itu.

Pertama, abstraksi: menyuguhkan yang abstrak secara abstrak pula. Ide, fislsafat, sistem-sistem moral dan sebagainya dibiarkan tetap abstrak di dalam cerpen. Cerpen yang baik mengkongkretkan yang abstrak. Menangkap yang abstrak lalu menghidupkannya dalam peristiwa-peristiwa, momen-momen, dan karakter. Kalau tidak, itu namanya tulisan filsafat, khotbah dan semacamnya dan bukan cerpen. Fariz dan Murparsaulian di antaranya nampaknya punya kecenderungan seperti itu. Kedua: kecenderungan ingin merangkum terlalu banyak ide-ide, hal-hal, peristiwa-peristiwa dan kehidupan dalam sebuah cerpen. Cerpen bukanlah novel yang disarikan. Bila novel adalah gajah, cerpen bukan gajah mini melainkan makhluk lainnya lagi. Ketiga: kurangnya disiplin menulis. Cerpen ditulis begitu saja, tanpa memperhitungkan dengan cermat cara penyampaiannya (style). Style menambahkan pada suatu pikiran tertentu semua hal-hal yang wajar untuk menimbulkan seluruh efek yang seharusnya dihasilkan oleh pikiran tersebut; kata Stendhal. Penyakit ini terdapat pada kebanyakan pengarang. Keempat: kurangnya ketrampilan dalam menggunakan bahasa Indonesia. Konstruksi kalimat bahasa Indonesia sering dicampuradukkan saja dengan konstruksi bahasa daerah. Pada batas-batas tertentu inbi bisa diterima, misalnya untuk mendapatkan suasana lokal yang sering dipakai dalam kalimat-kalimat langsung. Tetapi kalau naratornya yang mencampuradukkan tentulah sangat mengganggu. Penyakit ini juga banyak terdapat di kalangan pengarang.

Dari buku yang sama, saya juga melihat ada yang bisa ditambahkan pada esai SCB di atas. Jakob Sumardjo dalam “Umar Kayam: Memotret Suasana Batin” menulis bahwa kalau kita membaca cerpen atau novel sekarang ini, rata-rata mereka masih menekankan pentingnya pemaparan kejadian lahiriah. Di dalamnya memang ada perkembangan, perubahan, atau peristiwa, tapi terbatas pada mata. Dan mata hanya mampu melihat permukaan saja. Memaparkan proses perkembangan kejadian hanya melalui “pandangan mata” persis seperti pelukis naturalis yang memindahkan apa yang dilihat mata ke dalam kanvas.

Kalau sudah begini, mengutip Maman S Mahayana, di manakah letak (Melayu) Riau dalam peta kesusasteraan Indonesia? Dalam berbagai kesempatan kita selalu menyanjung-nyanjung sejarah cemerlang sastra dan bahasa kita ratusan tahun yang lalu. Dalam konteks kesejarahan, atau dalam usaha memupuk kebanggaan anak negeri sehingga dapat menjadi pemicu semangat paling tidak dalam usaha meraih kecemerlangan yang sama, itu memang ada baiknya. Tetapi ketika hal itu diulang-ulang, bahkan vitamin pun dapat menjadi racun. Biarlah itu semua menjadi pembelajaran, menjadi petunjuk, menjadi sejarah; tetapi bukan menjadi belenggu sehingga muncul kata-kata kanak-kanak, “Bapakku bupati.”, “Bapakku jenderal, lebih hebat bapakku, kan?”; padahal mereka sendiri hanyalah kanak-kanak dengan ingus yang berlelehan.***

Gde Agung Lontar adalah sastrawan Riau. Telah menerbitkan beberapa antologi cerpen dan novel. Esai ini adalah bahan diskusi dalam acara bedah buku Keranda Jenazah Ayah (dengan sedikit penyuntingan) yang diselenggarakan oleh Komunitas Paragraf pada Ahad, 23 Januari 2008 di Galeri Ibrahim Sattah, Pekanbaru.

« Tulisan sebelumnya