Rapsodi untuk Sergio
Mei 16, 2008 pada 12:15 pm (B U D A Y A, C E R P E N)
Cerpen Pandapotan MT Siallagan
Dia hanya meringis. Jeritan dan erangan mungkin haram bagi seorang tentara yang tertembak. Itu akan membuat musuh mengendus, menemukan lalu menyiksanya lebih jauh. Atau barangkali dia ingin menunjukkan bahwa lelaki hebat tak perlu menangis, meski bedil merontokkan badan. Dia menatapku. Aku bergetar. Darah mengucur dari daging paha dan betisnya yang bocor.
Aku teringat sebuah peristiwa. Peristiwa yang melibatkan ibunya. Entah apa yang akan terjadi jika wanita itu tidak membawaku ke bidan desa. Waktu itu, aku baru pulang dari sekolah dan menemukan rumah kami tertutup rapat. Aku memanggil-manggil bapak dan emak, tapi tak ada sahutan. Aku pergi ke ladang yang berjarak tak jauh dari rumah kami, tapi bapak dan emak juga tak ada. Aku kembali, lalu memanjat jendela untuk melongok ke dalam rumah dan kreeek…, paku itu terinjak sempurna. Aku meraung dan terjerembab dengan posisi telentang. Kulihat langit berputar-putar. Dunia kiamat.
Ketika siuman, aku terbaring dengan kaki dibalut perban. Seterusnya kuketahui bahwa wanita itu terbangun dari tidur siangnya karena mendengar aku meraung-raung. Sebaik menemukanku terkapar dengan telapak kaki berselekeh darah, dia menangis dan langsung menggendongku ke Puskesmas.
“Darah banyak muncrat dari kakimu. Istirahatlah! Bapak dan emakmu pergi ke Riau. Katanya bibimu meninggal. Riau itu jauh, maka itu kau tak diajak, agar sekolahmu tak terganggu. Aku diminta menjagamu selama mereka di sana. Kunci rumah juga dititip. Tenangkan saja hatimu, ya Nak!”.
Aku menangis. Bukan lagi untuk rasa sakit di kakiku, tapi untuk bauran rasa haru atas kebaikan wanita itu dan ingatan pada Bibi Sonti. Bibi Sonti adalah adik bapak paling bungsu. Meski tak utuh, seingatku, Bibi Sonti sangat baik. Dia sering datang ke kampung kami sebaik tamat SMP dan selalu membawaku permen. Dia akhirnya merantau ke Pekanbaru mengikuti jejak keluarga jauh. Di sana dia bertemu dan menikah dengan lelaki yang tak pernah kukenal. Sesekali bibi berkirim kabar lewat surat, bercerita tentang kehidupan mereka yang sangat sulit, juga tentang kondisinya yang sering-sering sakit. Suaminya memang memboyongnya menggarap hutan di jalan lintas Pekanbaru-Rengat yang penuh abu dan jerebu. Aku tahu, setiap menerima surat dari bibi, bapak selalu menangis diam-diam. Airmataku menderas jadi sungai. Tak terima kehidupan bibi yang baik berakhir sepedih itu. Dia masih sangat muda. “Tak usah menangis. Kau akan baik-baik saja. Bapak dan emak tak akan lama. Kau harus sembuh ketika mereka pulang.”
Kurasakan tangan wanita itu mengusap kepalaku. Sejuk, damai, sakit, sedih, kecewa dan pilu bercampur mengaduk-aduk hatiku. Aku lelah dan tertidur. Ketika bangun, wanita itu ada di sampingku. Dia menghibur jika aku menangis. Dia memanggil bidan jika aku meringis. Dia menyuap ketika aku lapar, mengambil teh ketika aku haus. Aku berani bertaruh, tak akan kau temukan lagi seorang wanita yang sanggup memberikan kebaikan total serupa itu kepada anak yang bukan buah hatinya.
Tiba-tiba aku rindu pada wanita itu, bercampur dengan rasa sakit menyaksikan putranya menderita dan kehilangan masa depan. Tak kuat melihat putranya diseret secara kasar oleh petugas menuju rumah sakit untuk menjalani perawatan dan mengeluarkan dua butir peluru yang bersarang di betis dan pahanya. Untuk pertama kali sejak menjalankan profesi sebagai jurnalis, aku berdoa semoga Tuhan menyelamatkan pelaku kejahatan ini.
Ah, sejak kapan dia jadi penjahat? Mungkin sejak ponselku berdering pukul 03.40 dini tanggal 13 bulan Maret itu. Dengan mata berat, aku mencoba bangun dan kulihat di layar ponsel tertera nama Amoral. Amoral adalah nama sebutanku pada Manombang T, ajun komisaris polisi yang menjabat kepala satuan reserse kriminal di kepolisian resor di daerah kami. Aku memberi nama itu karena dia suka mabuk, dan gampang main tangan kepada kekasih-kekasih gelapnya. Kesimpulan percakapan, aku harus meluncur ke sebuah kawasan perumahan mewah.
Tapi setiba di lokasi, tak kusaksikan lagi drama itu. Manombang T dan anak buahnya sudah memborgol dua lelaki bertubuh tegap dan dimasukkan dengan kasar ke mobil kerangkeng. Tubuh kedua pria itu bermulur darah. “Kau terlambat, Sayang! Tembak menembak tadi sangat seru. Anjing-anjing ini melawan. Empat orang lolos, tapi tak apa. Anjing yang dua ini akan kita paksa bicara.”
Manombang lalu bercerita, memberikan keterangan pers tepatnya. Dua orang ‘anjing’ bertubuh tegap yang dibekuknya itu, adalah anggota komplotan perampok antar provinsi spesialis perkebunan. Mereka terlibat dalam hampir semua kasus perampokan gaji karyawan. Mereka pembunuh berdarah dingin dan tak segan-segan menghabisi nyawa korbannya. Komplotan ini sangat piawai membangun jaringan dan menyusup ke tubuh manajemen sejumlah perkebunan, baik swasta maupun milik Negara. Jadi, mereka mengetahui secara persis jadwal gajian. Ketika bagian keuangan atau bendahara kebun mengambil uang dari bank, mereka mengintai dan melancarkan aksi secara brutal.
“Makanya kita heran, kenapa mereka ini melakukan perampokan di kawasan perumahan mewah. Mereka inilah yang disebut komplotan Babiat Cs. Anggotanya lebih dari 30 orang dan dibagi dalam lima kelompok. Hasil rampokan akan disetor kepada komandan bernama Babiat, lalu dibagi kepada semua anggota. Yang berambut cepak itu namnya Parulian alian Kodok alias Bunting alias Sordam! Yang botak itu Iwan alias Mulle alias Kadal,” beber Manombang T bangga.
Aku tiba-tiba merasa mual dan pening mendengar penjelasan itu.
“Kenapa? Apa kau tak suka berita ini? Koranmu akan laku besar.”
“Bukan aku tak suka, tapi….!”
“Tapi apa?”
“Aku tak enak badan!”
“Lagi datang tamumu? Ha…ha…!”
Aku diam. Parulian alias Kodok alias Bunting alias Sordam, tak satupun nama itu benar. Aku pergi meninggalkan tempat itu dan pulang ke rumah kontrakanku.
***
Namanya Sergio Batakov. Tentang nama aneh ini, dia pernah bercerita bahwa bapaknya terobsesi pada Soviet, juga serpihan-serpihannya yang mewarnai perjalanan sejarah perang dan tragedi kemanusiaan. Bapaknya ingin dia jadi jantan yang punya keberanian militan seperti tentara pemberontak Checnya. Umur lima tahun, kepadanya telah diajarkan ‘kekerasan’ seperti mengangkut kayu bakar dari hutan, memundak jagung dari ladang, mencangkul di sawah dan berburu di hutan. Ibunya hanya bisa menangis, sebab dia tak berani membantah suaminya. Alih-alih memahami, suaminya justeru akan membentak jika dia memohon agar anaknya jangan dipaksa terlalu lelah. Dia masih kecil.
“Tapi untunglah dia meninggal,” kata Sergio Batakov, “sebab selain menindasku dengan cara-cara seperti itu, dia juga kerap menampar ibu di rumah. Sering mengamuk tanpa alasan yang pasti. Hanya itu memang sifat buruknya. Dia toh sangat rajin bekerja, tak pernah mabuk-mabukan apalagi berjudi. Menurutmu apa aku salah mensyukuri kematiannya?”
Aku tertegun dan merasa gerun. “Mungkin salah. Kukatakan mungkin karena bisa saja ayahmu berubah dan menjadi sangat baik seandainya tidak meninggal,” kataku.
“Iya juga ya?”
Waktu itu kami kelas 6 SD. Tragedi paku dan kematian Bibi Sonti telah mendekatkan kami dua tahun belakangan. Dia menjadi seperti abang bagiku. Aku menjadi seorang adik baginya. Kami selalu bersama ketika pergi dan pulang sekolah. Dan kabar kematian bapaknya kami terima saat jam istirahat sekolah. Seseorang datang tergopoh-gopoh dan memberitahu hal itu kepada kepala sekolah, lalu mengajak kami pulang. Aku terhenyak, merasa ada yang hilang. Sergio Batakov hanya diam dan kaku mengemasi buku-buku dan peralatan sekolah ke dalam tas, lalu bergegas. Aku mengikutinya tapi tak berani mengajaknya bicara. Aku hanya menunjukkan isyarat peduli dengan mengayun langkah lebih cepat.
“Tak usah buru-buru. Semua orang akan mati kan? Dia beruntung duluan.”
Bukannya bersedih, sepanjang jalan Sergio Batakov malah bicara tentang banyak hal, tentang bapaknya yang selalu disebutnya ‘dia’, juga tentang cita-citanya.
“Aku ingin jadi polisi atau tentara. Bukan karena dia mengajarku dengan keras, tapi karena memang sudah cita-citaku. Kau tahu, selain harus kuat dan tangguh, polisi dan tentara harus pintar. Siasat dan strategi perang adalah pelajaran paling sulit, sebab di sana ada upaya melawan Tuhan. Mati dan hidup manusia urusan Tuhan, tapi polisi dan tentara sering mengambil alih urusan itu. Kau lihat sendiri kan, dia mati karena ulah polisi dan tentara. Tapi aku tidak mau jadi tentara dan polisi jahat.”
Aku tak tahu apakah perkataan Sergio Batakov benar. Tapi saat itu ada orang kota datang merampas lahan dan hutan milik leluhur kami untuk dijadikan perkebunan. Bapaknya termasuk orang yang melakukan perlawanan dan berhasil mempengaruhi orang-orang desa untuk tidak menjual tanahnya.
Setiba di rumah, aku lihat Sergio Batakov tak mampu mempertahankan kebencian pada bapaknya. Dia menangis juga di hadapan jenazah, meski hanya sebentar. Sewaktu jasad itu dibawa ke kota untuk otopsi, dia memilih pergi memancing. Sore harinya, dia memintaku memasak ikan hasil pancingan itu dan kami makan berdua. Malam hari, orang-orang kembali dari kota membawa jasad bapaknya. “Kau lihat, dia sudah jadi mayat tapi tetap menyusahkan,” katanya.
Sergio Batakov tak ikut mengantar bapaknya ke pemakaman.
Selanjutnya, situasi kembali tenang. Orang kaya dari kota itu gagal membuka perkebunan di daerah kami. Kematian ayah Sergio menyebar dan kami dengar diberitakan juga di koran-koran. Selama beberapa lama, sejumlah warga kampung berkali-kali dibawa ke kota untuk bersaksi di kantor polisi dan persidangan. Tapi aku dan Sergio Batakov tak peduli hal itu. Seperti biasa, kami pergi ke sekolah dan selalu bersama. Sergio sedikit terganggu dengan guncingan tentang kematian bapaknya, tapi tak sampai membuatnya kehilangan semangat.
Kami akhirnya tamat SD. Itu merupakan masa-masa sulit. Aku sangat sedih berpisah dengannya. Aku dikirim sekolah ke Kota Medan, numpang di rumah bibi. Sementara Sergio pergi jauh ke Lampung, mengikut saudara sepupunya yang telah berhasil menjadi pedagang pengumpul karet. Kami bertukar kabar lewat surat, sampai kelas satu SMA.
Tapi suatu malam saat liburan, ibunya datang ke rumah kami, bercerita tentang kesedihannya, sebab anaknya tak mau pulang. Tak hanya itu, Sergio ternyata sudah meninggalkan sekolah dengan alasan tidak tega membebani ekonomi saudara sepupunya yang tergantung pada harga lateks.
“Aku ingin bekerja, cari uang banyak-banyak, agar bisa membahagiakan emak,” begitu surat Sergio pada ibunya. Ibuku mengatakan bahwa semua orang berhak menentukan jalan masing-masing. Dan setiap jalan itu belum tentu buruk, meski kita tahu bukan jalan yang baik. Bapakku melengkapi dengan berkata bahwa hidup bukan hanya soal harapan, tapi juga pertaruhan menerima keputusan-keputusan yang melukakan. Kesedihan itu berlangsung sebentar. Selanjutnya hukumanku.
“Atau supaya dia pulang, kalian bertunanganlah. Dia sepertinya sangat menyukaimu. Akan kuminta dia menunggumu hingga tamat SMA. Mau kau?”
Aku merasa disengat listrik. Bapak dan emak tersenyum. Mungkin tak tahan melihatku menderita dalam kikuk, emak akhirnya menyelamatkan dengan berkata, “Tak usah kau pikirkan. Bibimu hanya bercanda.”
Sebenarnya aku bahagia. Kami sudah pacaran sejak kelas satu SMP. Tak bisa kuhitung berapa puluh lembar surat dikiriminya untukku dari Lampung. Juga tak bisa kuhitung berapa ribu kata dan harapan pernah kukirimkan padanya.
Ketika aku tamat SMA, Sergio sudah berhasil. Tapi dia tidak lagi pernah menghubungiku. Aku berpikir, dia sudah angkuh dengan keberhasilannya. Dia sudah mampu mengirim uang setiap bulan kepada emaknya, bahkan membangun gubuk bambu jadi rumah beton berlantai keramik. Sangat mewah untuk ukuran kampung.
Aku kuliah, dan pulang sebaik tamat. Bapak dan ibu sebentar merasa bahagia. Tapi ketika kukatakan keputusanku untuk bertani saja di desa, bapak dan ibu kecewa dan marah besar. Mereka ingin aku tinggal dan bekerja di kota, seperti Sergio.
“Betul kata bapak-ibumu. Masa tak bisa? Anakku saja yang hanya tamat SMP bisa. Lihatlah, rumah ini bisa dibangun dari hasil jerih payahnya. Yang penting rajin berdoa. Kalau tidak, mana bisa dia bekerja di perkebunan dan sekarang dipromosikan menduduki jabatan lebih tinggi. Kau tahu kan, dia sudah punya mobil. Rumahnya juga sudah ada di kota.”
Saat itulah aku mulai benci kepada Soada Ria, ibu Sergio itu. Tapi aku tak menyalahkan dia. Wajar, sebab hanya anaknya satu-satunya yang berhasil. Dan hingga saat itu, hanya aku satu-satunya yang berhasil jadi sarjana.
“Tiru anak tetangga itu. Hanya tamat SMP, tapi bisa kaya. Apa tak malu kau dikalahkan anak yang tak sekolah?”
Hal itu dikatakan bapak berulang-ulang. Aku muak dan pergi ke kota kecil sekira 100 kilometer dari kampung kami. Sebuah koran lokal akhirnya menerimaku jadi wartawan yang, sumpah mati, tak pernah terlintas dalam bayanganku sejak kecil.
Saat tersadar, aku menemukan diriku menangis. Benar-benar menangis. Melalui telepon, kuputuskan minta cuti selama dua minggu dari kantor. Kukatakan ibuku sakit keras. Bosku setuju. Mungkin karena mendengar tangisku. Setelah itu, kubuka lemari, kubongkar dan kukeluarkan semua surat dan foto-fotonya, kubakar berteman tangis. Lalu aku pulang. Setiba di kampung, orang yang pertama sekali kutemui adalah ibunya. Aku memeluknya sambil menangis.
Pematangsiantar, November 2007