PUING

Aku tahu. Aku tahu jalan telah terbakar di sepanjang nafas kita. Dan di dada kita yang menyala, angin mati membaca abu kota, mencatat serpihan-serpihan kampung yang mengeras jadi lukisan lengang di sepanjang perih.

 

Maka, setiap kali berangkat menyusuri rongga musim yang alpa menggemakan dingin, sajak-sajakku hanya bisa merekam airmata, juga darah. Kukirimkan padamu rintihannya sebagai kabar duka dari sunyi yang menggambar sungai di atas luka tanah. Merenangi airnya yang berwarna darah, kukendarai sepi yang menguap dari detik-detik yang digerakkan luka.

 

Ketahuilah, menajam juga doa-doaku menekuri puing itu. Seperti menggali kubur derita yang mengental dalam aliran darah. Kaudengarkh suaraku melukis namamu di dinding resah yang menyeretku ke sepi yang jauh? Sebab kepedihan itu terus menganga, memuntahkan ribuan pisau rindu dan merobek-robek tidurku dalam pedih yang bisu.

 

Aku tahu. Aku tahu kau tidak akan pulang. Kabut duka telah menerbangkan cinta yang membentang dari kampungkita dan berakhir pada lampu-lampu kota yang kaurenangi demi hidup, juga sedikit birahi yang ingin kau tumpahkan ketika mengenangku. Tapi, selalu kupelihara gunung-gunung di dalam nafasku, sebagai sepi yang kokoh. Dari puncaknya, kusetubuhi bayanganmu sebagai doa yang membuka jalan antara sunyi harapku dengan tanah yang mengajarimu perburuan-perburuan keji

 

Lalu, di sudut sepi puing hati mana doa-doa harus kugariskan? Sebab kubirahikan tubuhmu di rumah yang kubangun di hutan sujud. Tidurlah. Tidurlah di segenap lengang yang melukis airmata jadi doa, sebab kutahu kau tak akan pulang. Tak akan menyanyi bagiku di malam-malam lengang.

 

Pekanbaru, Oktober 2003

 

17 Komentar

  1. hanggadamai berkata,

    April 28, 2008 pada 12:49 am

    semangat ya…

  2. carra berkata,

    April 28, 2008 pada 7:14 am

    hah??? hangga udah dari sini juga…?? :lol:

  3. rachmawan berkata,

    April 28, 2008 pada 11:34 am

    Biarkanlah ia karena ia takkan pulang :)
    bagus bro..
    dah lama banget nggan menikmati tulisan mu
    salam sastra

  4. rachmawan berkata,

    April 28, 2008 pada 11:36 am

    Biarkanlah ia karena ia takkan pulang :)
    bagus bro..
    dah lama banget nggan menikmati tulisan mu
    salam sastra

  5. daniyuda berkata,

    April 29, 2008 pada 5:31 am

    Top banget, amarah, kebencian, kensunyian, kosong dalam ruang dan waktu, apakah ia yang takkan pulang telah menemukan point of no return ?

  6. amerzaman berkata,

    April 30, 2008 pada 4:23 pm

    puing-puing…

    indah

  7. mutiatun berkata,

    Mei 1, 2008 pada 6:55 am

    T-O-P B-G-T. tak jauh-jauh amat dari sebuah kisah yang pernah terekam dalam lembar hidupku.

  8. chic berkata,

    Mei 2, 2008 pada 3:03 am

    hmmmm.. kok sedih sih puisinya?

  9. alisyah berkata,

    Mei 2, 2008 pada 1:01 pm

    hatiku tersayat menjadi puing puing penuh darah segar ketika membaca puisi sedih nan menyentuh

  10. dwihandyn berkata,

    Mei 2, 2008 pada 3:54 pm

    Aku pasti akan pulang… :)

  11. antown berkata,

    Mei 2, 2008 pada 11:05 pm

    blognya bersih bgt. tanpa dosa dan tanpa noda

  12. mezzalena berkata,

    Mei 3, 2008 pada 12:26 am

    Hwaa …. bagus bangett …
    Dan di dada kita yang menyala, angin mati membaca abu kota, mencatat serpihan-serpihan kampung yang mengeras jadi lukisan lengang di sepanjang perih.
    aku suka ini … mirip sajak-sajaknya Afrizal Malna. Salam kenal, terimakasih sudah mampir di Lilin Kecil.

  13. langitjiwa berkata,

    Mei 3, 2008 pada 1:53 am

    ” aku akan kembali pulang,bang. dan menyanyikan lagu2 cinta itu kembali…”
    hehehehe slmt siang,bang. aku kangen dgn sobatku yang satu ini. apa kbr,bang.?
    salamku,

  14. fay berkata,

    Mei 3, 2008 pada 8:26 am

    lukisan lengang di sepanjang perih
    di tembok retak lukisan itu tercipta
    memunguti rindu dan pulang yang bersaudara

  15. antokoe berkata,

    Mei 4, 2008 pada 7:08 pm

    pasti pulang, masa nginep lagi. lam kenal

  16. daeng limpo berkata,

    Mei 6, 2008 pada 9:48 am

    masih di Pekanbarukah tahun 2003?
    wah….saya lupa…sobat Badri telah menikah. Hanya saya tidak sempat mampir ke pestanya bung. Bung Badri titip salam buat bung Panda.
    —salam—

  17. coffeeholic berkata,

    Mei 8, 2008 pada 5:19 pm

    indahnya luahan ini

Tulis sebuah Komentar