PUING

Aku tahu. Aku tahu jalan telah terbakar di sepanjang nafas kita. Dan di dada kita yang menyala, angin mati membaca abu kota, mencatat serpihan-serpihan kampung yang mengeras jadi lukisan lengang di sepanjang perih.

 

Maka, setiap kali berangkat menyusuri rongga musim yang alpa menggemakan dingin, sajak-sajakku hanya bisa merekam airmata, juga darah. Kukirimkan padamu rintihannya sebagai kabar duka dari sunyi yang menggambar sungai di atas luka tanah. Merenangi airnya yang berwarna darah, kukendarai sepi yang menguap dari detik-detik yang digerakkan luka.

 

Ketahuilah, menajam juga doa-doaku menekuri puing itu. Seperti menggali kubur derita yang mengental dalam aliran darah. Kaudengarkh suaraku melukis namamu di dinding resah yang menyeretku ke sepi yang jauh? Sebab kepedihan itu terus menganga, memuntahkan ribuan pisau rindu dan merobek-robek tidurku dalam pedih yang bisu.

 

Aku tahu. Aku tahu kau tidak akan pulang. Kabut duka telah menerbangkan cinta yang membentang dari kampungkita dan berakhir pada lampu-lampu kota yang kaurenangi demi hidup, juga sedikit birahi yang ingin kau tumpahkan ketika mengenangku. Tapi, selalu kupelihara gunung-gunung di dalam nafasku, sebagai sepi yang kokoh. Dari puncaknya, kusetubuhi bayanganmu sebagai doa yang membuka jalan antara sunyi harapku dengan tanah yang mengajarimu perburuan-perburuan keji

 

Lalu, di sudut sepi puing hati mana doa-doa harus kugariskan? Sebab kubirahikan tubuhmu di rumah yang kubangun di hutan sujud. Tidurlah. Tidurlah di segenap lengang yang melukis airmata jadi doa, sebab kutahu kau tak akan pulang. Tak akan menyanyi bagiku di malam-malam lengang.

 

Pekanbaru, Oktober 2003

 

Dasar Jiwa

kita memiliki jiwa yang sama

seperti matahari di langit kota berpagar bukit

mengurai cahaya juga di lembah sunyi muasalku

 

maka kita tahu, ada rembulan di dasar jiwa

bagai senyum dewa mengintip dari balik gunung

mengusap gubuk-gubuk beku di dusun yang jauh

 

kita memiliki jiwa yang sama

seperti angin mengabadikan dingin di sungai berbatu

mengabadikan gairah ombak di segala samudra

 

maka kita tahu, di dasar jiwa ada muara

bagai ruang rindu tempat bersua

mata airku dengan lautMu

 

Pematangsiantar, Februari 2008