Gerimis Malam
Maret 30, 2008 pada 5:52 pm (Detak Senja, P U I S I)
sedekat kelopak pada bunga
gerimis menyulam jiwa Kita
pada malam yang merampas senja
hingga kita lupa rahasia warna
“sampai di mana kau bertapa,” tanyaMu
“sejauh lembah jiwa,” kataKu
sehangat itu Kita bercakap
tapi doaKu gugur dihempas angin
suaraMu hambur sedingin salju
hujan bersabung dalam mataKu
nyata Kau lebih jauh dari lembah jiwa
“kau tak pernah mencariku,” kataMu
“sebab aku tak kenal diriku,” sahutKu
Pematangsiantar, Februari 2008
kucingkeren berkata,
Maret 31, 2008 pada 8:58 am
(…gerimis menyulam jiwa Kita..)
Duh, spertinya dingin sekali ya…
(… nyata Kau lebih jauh dari lembah jiwa
“kau tak pernah mencariku,” kataMu
“sebab aku tak kenal diriku,” sahutKu.. )
Seperti sepi yang tak bertepi… Kenapa puisi selalu mengungkapkan kegundahan hati ya…Apakah puisi memang untuk itu?
Balisugar berkata,
Maret 31, 2008 pada 11:12 am
Oo…ooo Panda syahdu sekali
hanggadamai berkata,
April 1, 2008 pada 2:11 am
mengenal diri sendiri sebelum meminta kepadaNya
ardianzzz berkata,
April 1, 2008 pada 5:42 am
eh makna hermeneutiknya gimana tuh?
btw lam knal yah?
eskaku berkata,
April 2, 2008 pada 12:32 am
duhh, jadi sedih
meiy berkata,
April 3, 2008 pada 6:10 am
sebab sulit mengenali diriku, lupa bahwa Kau ada di alir darahku
keren panda.
GADIS RANTAU berkata,
April 3, 2008 pada 6:57 am
aku jadi terhanyut di laut lepas nih,he..he…puitisnya,maaan!he..he..
Okta Sihotang berkata,
April 3, 2008 pada 2:50 pm
wah…anak siantar toh ceritanya ??
*siul - siul*
Rindu berkata,
April 4, 2008 pada 6:16 pm
Kau tak pernah mencariku… aku yang menunggu diujung aspal
fenfen berkata,
April 5, 2008 pada 2:47 am
wah… pesen 1 puisinya, ga pedes yaa?
Menik berkata,
April 6, 2008 pada 2:12 pm
wah, bang panda lagi hiatsu ya ???
Oemar Bakrie berkata,
April 7, 2008 pada 5:49 pm
Gerimis malam, dingin … brrr membuat gigi gemeletuk
Goenawan Lee berkata,
April 8, 2008 pada 12:39 am
Hei, jangan mencari, tapi temukanlah! *siul2*
azaxs berkata,
April 9, 2008 pada 6:23 am
Jiwaku terantuk dalam helaian kata-kata anda…
fay berkata,
April 10, 2008 pada 4:15 am
terimakasih
saya bersyukur bisa membuka kembali site anda
fay berkata,
April 10, 2008 pada 4:21 am
Seperti sepi yang tak bertepi… Kenapa puisi selalu mengungkapkan kegundahan hati ya…Apakah puisi memang untuk itu?
tanda orang ngga suka baca tuh. mang nulis (baca:ngeblog) ngga digunakan untuk tujuan demikian?
anggap remah ajah, wong becanda
catatanlasya berkata,
April 10, 2008 pada 4:26 am
Gerimis ….
langitjiwa berkata,
April 13, 2008 pada 2:51 pm
” aku datang tak bernama,nama datang dari ayah bunda’ku,lalu siapakah aku? aku adalah aku..hehehe..slmt malam,bang. bagaimana khabarnya…”
salamku,
langitjiwa…..
Rindu berkata,
April 14, 2008 pada 3:31 am
gak ada tulisan baru … balik ke blog sendiri deh.
crushdew berkata,
April 16, 2008 pada 9:24 am
sebab aku tak kenal diriku..
wuih dalem banget
daeng limpo berkata,
Mei 6, 2008 pada 9:44 am
merenung dan menikmati
—salam—