Di Gubuk itu, Airmata Sedingin Hujan
Maret 18, 2008 pada 4:38 pm (B U D A Y A, Detak Senja)
Dia mulai bermimpi tentang masa depan saat menggigil kedinginan di sebuah sopo pada suatu petang, saat hujan deras mengguyur ladang di masa yang jauh. Kelak, setelah waktu bergulir membawa resah demi resah, kisah bocah itu berakhir sebagai lelaki tua yang dilupakan. Dan, kenangan sunyi tentang sopo tetap meringkus ingatannya.
Pertama kali, dia merasa tua di gerbong kereta penuh sampah. Dari kaca kereta, langit kelihatan hitam di ujung cakrawala. Hujan jatuh. Dia terjebak lagi dalam hujan. Kereta menjelma jadi sopo. Dia sendiri. Menatap butiran hujan jatuh dari langit. Angin bertiup hebat, meratakan pokok jagung dengan tanah. Dia menangis, betapa buruk esok akan berlangsung. Dan ya, sopo itu adalah penjara bagi ingatannya.
Sungguh, aku ingin bicara tentang sopo. Dalam Toba Bataks-Nederlands Woordenboek karangan J Wraneck yang kemudian diterjemahkan P Leo Joosten OFMCap menjadi Kamus Batak Toba-Indonesia, Penerbit Bina Media, Medan (2001), Sopo berarti lumbug padi, 2. ruang terbuka tempat menerima tamu; 3. tempat mengadakan pertemuan. Tapi di kampung bocah itu, dangau di sawah disebut dengan sopo. Gubuk di tengah ladang juga disebut sopo. Gudang kecil tempat penyimpangan barang di kebun juga disebut sopo. Di kampung, segala persinggahan di tengah ladang dan sawah adalah sopo. Dan di pintu sopo itu, airmata seorang bocah pernah tumpah sedingin hujan.
Aku ingin bicara tentang sopo, semua karena ingatan. Usai bermimpi, bocah itu menangis sendiri di sopo. Emak sedang asyik menyiangi gulma dari kebun cabai menjelang senja itu. Emak bergegas menuju gubuk kecil di mana bocah itu menangis untuk rasa takut dan kesepian yang tak pernah benar-benar terbahasakan.
Sungguh, emak tak sempat membasuh tangan. Kebeningan cinta seorang ibu memang tak lantas jadi luntur karena lumpur. Emak mendekapmu. “Nak, ladang kita masa depanmu, ladang kita sejarahmu. Ingatlah kelak, tak ada kebencian kuajarkan di sini.” Lalu bocah itu tertidur.
Demikianlah kukenang kilasan-kilasan ingatan itu di masa-masa datang. Sopo kecil di tengah ladang itu menjadi saksi atas semua kesucian, rasa takut, perlindungan, mimpi dan ketenangan jantung. Meski di luar sana, emak bertarung dengan panas matahari, gulma, serangga, hama dan hujan. Tapi ya, sopo itu selalu menyamankan kau.
Lalu, setelah tahun-tahun berlalu tanpa kau hitung karena keriangan masa kanak-kanak masih terlalu bersahaja, kau mulai belajar memahami matahari, mengakrabi sungai, bermain-main dengan hujan. Tapi kelak, pada sebuah hujan bercampur badai, kau takluk dan berlari ke gubuk kecil di tengah ladang itu. Ibumu menyusul dan menyelamatkan seikat kayu untuk dibakar menanak nasi senja nanti. Hujan benar-benar membadai. Karena terlalu lelah, ibumu tertidur, sedangkan kau asyik membongkar ini itu di segala penjuru gubuk kecil. Lalu kau temukan sebuah bingkisan, kau membukanya tapi hanya menemukan ikan asin di dalamnya.
Tiba-tiba kau tertarik melihat sebuah gambar di kertas koran pembungkus ikan asin itu, gambar perempuan telanjang. Tapi bukan itu benar yang membuatmu terkesan. Untuk membunuh waktu, kau membaca-baca isi koran. Beberapa kalimat membuatmu tertarik. Kau tercenung, tiba-tiba ingin menulis seperti bahasa yang baru saja kau baca di koran. Lama kau termenung. Sungguh, gubuk kecil yang mengonggok seperti kotak sunyi di tengah ladang itu, juga hujan yang jatuh, membuatmu seperti bertemu sesuatu.
Sedikit bergetar dadamu. Ternyata sebuah puisi tercetak rapi di lembaran koran yang sudah lusuh itu, membuat matamu makin tertempel pada lembaran koran itu. Sungguh, saat itulah kau mulai berangan-angan jadi penulis. Sungguh, gubuk kecil di tengah ladang itu menjadi saksi atas suara hati dan tekadmu.
Lalu pada senja berhujan yang lain, kau kembali berteduh bersama bapak dan ibumu. (kali ini bapakmu sudah ada, sebab dia sudah pulang dari rumah sakit. Tiga bulan bapakmu dikerangkeng di rumah sakit di kota untuk sakit paru yang dideritanya). Kepada bapak dan ibu, kau berkata berkata, “Kelak, suasana indah ini akan kutuliskan untuk mempertegas sejarahku.”
Bapak dan ibu tercengang. Saat itu, seruling bambu melengking dari gubuk lain di tengah ladang yang lain. Seruling itu ditiup seorang penggembala kerbau yang mungkin sedang belajar memahami arti kesepian. Gubuk sumber seruling itu disebut Sopo.
Lalu setelah masa sulit itu berakhir, kau pergi meninggalkan desa. Semua orang, pada awalnya, memang selalu memilih kota sebagai tempat berjudi. Jika pun kelak kau, atau mereka, mengaku lahir dari kota dan kampung adalah singgahan peziarahan untuk nasib yang tak lagi diizinkan bersahabat dengan jiwa alam, pada awalnya kakek atau bapakmu pastilah berangkat dari tamadun
bernama kampung. Sesungguhnya, kita adalah korban urbanisasi itu sendiri.
Lalu kau mungkin akan lelah. Dengan mata kepalamu kau bisa menyaksikan keriuhan sebuah kota bergerak dalam ingin dan hasrat elit penguasa. Para pejabat makin hebat melakukan KKN dengan trik-trik indah, hingga lelah kita memperjuangkan pembersihannya, ternyata pencurian itu sendiri dilakukan di belakang kita.
Kehidupan kota mungkin membuatmu lelah. Kau mungkin rindu sebuah tempat untuk sejenak berkontemplasi, mungkin di tengah ladang, atau mungkin di ujung hutan ketika bapak dan ibumu bertualang membuka lahan-lahan baru di tanah yang kemudian dirampas perkebunan, atau kau dituduh melakukan ilegal logging.
Mungkin kau benar-benar istirahat. Tempat yang paling nyaman untuk itu adalah Sopo. Demikianlah!
goop berkata,
Maret 19, 2008 pada 2:18 am
dan sopo menjadi muasal rangkaian cerita
bersama angin, padi, dan lumpur
menyanyikan kerinduan, juga sepi
madah pujian, atau ode yang lembut
kemudian pulang, tenang
*begitu indah Bang*
***** makasih bung. aku juga menemukan banyak keindahan dalam blogmu. Makasih ya.
nne berkata,
Maret 19, 2008 pada 6:45 am
yap,,gw emang butuh tempat buat beristirahat. sebenernya gw tau kemana gw bisa pergi, tapi kok ya gw kadang enggan pergi ksono
***** pergilah, siapa tahu di sana ada yang bisa kau jenguk lagi. salam kenal ya.
azaxs berkata,
Maret 19, 2008 pada 9:50 am
wah, gaya bahasa anda indah bang.. but sopo apa artinya? hehe
maaf dah lama saya ga mampir..
**** makasih mampi lagi. wah, bung berarti ga baca serius. kalo baca, pasti dah tahu arti sopo.
Senja berkata,
Maret 19, 2008 pada 11:10 am
Bila aku berkesempatan suatu saat kelak…
Akan kukunjungi sopo itu
Aku selalu rindu duduk di sana
Menatap pada senja
Dan menemani Emak
Cerita sopo tak habis dalam cerita
Selalu indah dan nyaman dinikmati
***** makasih atas apresiasinya. Makasih banyak. Sopo yang tak terlupakan, begitulah aku mengingatnya.
daeng limpo berkata,
Maret 19, 2008 pada 12:47 pm
sopo menurutku adalah kerinduan akan kepolosan hidup jauh dari tipu muslihat, hanya ada ketulusan seperti ketulusan seorang emak kepada anaknya. Penuturan sopo yang indah.
Salam Hangat Bang Panda diantara dinginnya malam dan terpaan hujan.
Penggemarmu dari Pekanbaru.
***** Makasih bung. Salam hangat dari Siantar.
Okta Sihotang berkata,
Maret 19, 2008 pada 1:29 pm
sopo klo orang batak bilang, gubuk…
***** kan memang itu maksudku bu. makanya baca tuntas dong.
Soritua berkata,
Maret 19, 2008 pada 1:59 pm
ah, teringat aku akan kampung. hebat tulisannya.
***** makasih atas kunjungannya. salam kenal bos.
Menik berkata,
Maret 20, 2008 pada 2:51 am
Waw… indah nian postingan ini… bikin saya rindu untuk mudik ke alam sumatera…
*bayangin kampungnya datuk*
Makasih ya udah main ke sopo-ku (saung)
sering main kesana…
**** ok makasih, aku akan sering-sering berkunjung. makasih banyak ya!
nexlaip berkata,
Maret 20, 2008 pada 4:50 am
pemaparan yang indah
**** makasih bung. salam kenal.
theloebizz berkata,
Maret 20, 2008 pada 7:25 am
sedang rindu dgn kampung halaman yah???semoga segera terobati yah kangennya..
**** yah, seperti semua orang, selalu punya rindu untu sesuatu. makasih atas kunjungannya.
dani berkata,
Maret 20, 2008 pada 11:05 am
kl di bali, yg tanpa lumbung padi atasnya, disebut bale bengong..sambil nyari inspirasi..
inspiratif sekali tulisannya
yg baca spt ada dlm cerita
yah, yg buat kan emang penulis
**** makasih informasinya bung. sangat berharga. bale bengong, aku pelajari dulu, untuk kelak kutulis lagi. soalnya aku sangat terobsesi pada sopo. hehe
presty larasati berkata,
Maret 20, 2008 pada 11:20 am
huff…
indah sekali.. berasa ingin berlari dan bernaung di sopo itu…
kangen rumaaaaahhh….
syukron,
**** yah, tulisan ini lahir karena kangen kampung dan masa kanak yang sunyi itu. salam kenal. makasih banyak ya!
Rindu berkata,
Maret 24, 2008 pada 12:55 am
Sopo itu alam keabadian yah … hidup setelah mati? *menebak..*
***** hehe. mungkin iya, tapi bagiku, sopo adalah kehidupan abadi. salam. dan makasih banyak atas kunjungannya.
kucingkeren berkata,
Maret 25, 2008 pada 4:50 am
Asyik sekali, semua konflik berhasil digambarkan di sini. Dilema hidup, Indah tapi menggiriskan…
***** trimakasih kawan. salam hangat dariku.
Par-Lumbanrang berkata,
Mei 10, 2008 pada 9:48 am
Horas Ito Panda,
Sudah lama aku dengar nama ini di milis2, akhirnya tanpa sengaja nyangkut juga di blognya. Aku uda baca banyak isinya, dan tulisan yang satu ini memaksaku untuk menagis, cukup lama dan susah ku hentikan….
Biasanya memang jiwa sastra itu muncul karena pernah mengalami kepahitan / masa sulit sebelumnya. Dan dari sanalah tercipta karya itu.
Tetaplah berkarya Ito, GBU