Sesaat Saja, Aku Lelah

Sebab harus kukisahkan padamu, sekalipun dalam darahmu mengalir darah pengembara, suatu saat kau akan letih. Jikapun kau selalu berhasil menepis deraan lelah, maka hujan akan menahanmu di suatu tempat.

Sebab begitulah yang terjadi pada kakekmu. Lelaki gagah itu, meski punya dua kaki kokoh yang senantiasa sanggup menapaki batu-batu gunung, di tangannya selalu melekat sebuah tongkat kayu ke manapun dia pergi mengembara. Dan selalu bangga pada peta-peta perjalanannya. Dan selalu bangga mengatakan kepada semua orang bahwa dia tidak pernah lelah.

Hingga tiba suatu senja, hujan merampas keperkasaannya. Di pinggir jalan di daerah pebukitan dan lembah-lembah yang jauh, dia berhenti di mulut gua kecil untuk mengindar dari hujan. Dia jongkok sambil memegang tongkat kesayangan itu dengan posisi vertikal. Ujung yang satu bertumpu di dasar gua, ujung yang lain menancap ke langit gua. Sungguh, pintu gua itu sangat kecil, hanya berdiameter sepanjang tongkat, sehingga lelaki itu harus jongkok.

Tapi hujan makin menggila. Lelaki itu kedinginan. Dan, tiba-tiba, tongkat miliknya berubah jadi merah, darah telah mengalir dari langit gua, tongkat itu menjelma jadi darah terjun. Lelaki itu melompat dan berlari. Dari jauh, dia melihat: ternyata bukan mulut gua yang dimasukinya, tapi mulut naga. Tongkat itu menyelamatkannya dari remukan mulut naga yang perkasa.

Bahwa benar tongkat itu tak penting, sebab kakekmu adalah manusia kokoh. Tapi benda itulah yang menyelamatkannya melewati masa-masa mendebarkan paling menentukan. Jadi hargailah apa yang kau suka, bawalah ke manapun kau pergi, meski kakekmu dituduh edan karena tak bisa berpisah dengan tongkatnya.

Demikian bapakku berkisah suatu kali. Memberi tahu mengapa dia tidak suka aku jadi lelaki pengembara.

Dan seperti tongkat itu, blog ini juga tak penting. Tapi, sebagaimana diketahui orang-orang tersayang, blog ini telah melahirkan keindahan-keindahan menakjubkan. Tapi sesaat saja, aku akan pergi dari sini. Hanya sebentar. Sebab akhir-akhir ini, aku sering bermimpi tentang kakek. Dan ingin mewujudkan keinginan bapak. Dan lelah. Hanya lelah. Dan hanya jiwaku yang tahu. Hanya jiwaku yang paham.

12 Komentar

  1. Ratna berkata,

    Maret 5, 2008 pada 4:18 pm

    Apakah kau lelah menungguku? *hih,ge-er*

  2. satya sembiring berkata,

    Maret 6, 2008 pada 3:06 am

    aku akan membawa tongkoat itu, bukan hanya keperkasaan dan kekuatan tangan ku tapi doa yang bersamaku. orang orang yang mengasihi aku
    itu lah tongkatku yang akan menyelamatkan ku dari mulut naga.

    heheheh

  3. goop berkata,

    Maret 6, 2008 pada 3:08 am

    selamat jalan Bang, ditunggu kembalinya,
    salam untuk Kakek, dan tongkatnya :D

  4. daeng limpo berkata,

    Maret 6, 2008 pada 4:21 am

    Selamat menikmati istrahat Bang Panda
    Jangan lama-lama, apa mau liburan ke Pekanbaru nih…?
    –Salam—

  5. uwiuw berkata,

    Maret 7, 2008 pada 1:56 pm

    so, kalau begitu cuma satu kalimat singkat : semoga kamu baik-baik saja dimanapun kamu berada ?

    :-D

  6. Waty berkata,

    Maret 7, 2008 pada 2:19 pm

    Semoga rasa lelah itu tidak berganti menjadi keengganan dan kegelisahan,melainkan berganti menjadi semangat yang menyala - nyala untuk melahirkan karya - karya yang indah dan dalam luar biasa…

    Met menghilangkan rasa lelah itu ya bang Panda…moga nga lama2 perginya dan jikalaupun keinginan Bapak tidak terwujud nantinya masih ada generasi yang bakal mewujudkannya…Cia yo..!

    Selalu semangat dan selalu tersenyum ^-^
    JBU

  7. Irma berkata,

    Maret 8, 2008 pada 1:49 am

    Selamat bertemu dengan kakek tercinta Bang, cepat kembali ya, supaya saya bica mendapatkan keindahan2 baru dari blog ini. Jangan lupa ceritain tentang kakek ntar. ;)

  8. wiwite berkata,

    Maret 9, 2008 pada 2:29 pm

    ‘lelaki’ memang butuh istirahat…..???? :D

  9. Sang lelah berkata,

    Maret 17, 2008 pada 5:08 pm

    lelah tentang keinginan….
    hanya jiwaku yang paham…

  10. Adlian berkata,

    Maret 17, 2008 pada 5:34 pm

    yang sabar ya bang memang terkadang ada waktunya untuk lelah :)

    ***** Makasih banyak ya. Thanks atas kunjungannya.

  11. Ratna berkata,

    Maret 19, 2008 pada 1:31 am

    Salut nih… Lelah aja masih sebegini produktif. Gimana kalau lagi stamina penuh?

    ***** lelah tak selalu tak produktif kan?

  12. Oemar Bakrie berkata,

    Maret 29, 2008 pada 5:28 pm

    Kalau sesaat lelah mungkin perlu sesaat istirahat Pak!

Tulis sebuah Komentar