Sudah tiga bulan lamanya aku menderita batuk aneh. Kukatakan aneh, sebab batuk itu selalu datang setiap dini hari, bahkan berlangsung hingga subuh. Sungguh, hentakan batuk itu sama mengerikannya seperti gedoran pintu di tengah malam buta di negeri yang dilanda perang; kapan saja nafasmu bisa tercerabut.
Demikianlah, kadang aku terbangun karena tak tahan menanggungkan sesak di dada, seolah-olah mulutku dibekap tentara pemberontak. Ah, perang, kenapa harus bercampur aduk dengan batuk? Tapi begitulah, hentakan batuk itu lebih sering tidak kuketahui. Istrikulah yang memberitahu kesedihan itu dengan bahasa resah, “Tadi malam tidurku tak tenang. Kau batuk terus. Sakit dadaku mendengarnya. Maka kuolesi tubuhmu dengan balsem.”
Maka terjawablah keherananku kenapa setiap kali bangun di pagi hari, tubuhku selalu berbau balsem. Aku sakit! Itulah kalimat pendek yang mulai merongrong pikiranku akhir-akhir ini. Tapi aku tak terlalu peduli. Aku lebih suka memikirkan seorang sahabat, yang terpaksa menahan seleranya terhadap berbagai makanan karena menderita obesitas. Kolesterol, lemak jahat itu, konon telah membangun istana batu di dalam darah, empedu atau otaknya. Maka batuk itu tak pernah membuatku resah, apalagi sedih, sebab terlalu banyak orang sakit di bumi ini.
Maka, ditemani rasa sakit, aku mencoret-coret tulisan ini sebagai gumaman kultural sederhana; bahwa penyakit kerap hadir sebagai tembok pemisah antara jiwa dengan makanan, maka makanan ada saatnya penting ‘diomeli’.
Ini tentang kebudayaan, tentang gastronomi, yang di sekolah dulu sering diajarkan sebagai tata boga. Bahwa budaya suatu bangsa, tinggi atau rendah, rupanya tak bisa lepas dari ragam dan teknik penghidangan seni dapur dalam kehidupan bangsa itu. Orang-orang tertentu, misalnya, sering memandang rendah orang-orang Amerika dilihat dari seni dapurnya yang sederhana; sepotong daging dipanggang dan hanya dicampur sedikit bumbu dan garam, bagaimanakah nikmatnya makanan itu? Primitif, tidak kreatif, serba instan, itulah kesannya, seperti KFC yang dipuja kaum pragmatis itu.
Maka kebudayaan bernilai tinggi menjadi milik Negeri China, Yunani, Romawi dan Mesir, sebab dari sanalah kesemarakan seni dapur, atau kuliner atau gastronomi diperkenalkan. Bagi mereka, seni memasak terkait erat dengan diplomasi, persahabatan dan hal-hal lain yang tak terduga. Pelaut-pelaut Tiongkok bahkan mampu mengarungi samudera yang kejam untuk mencari resep makanan, lalu digarap dengan teknik kuliner berestetika tinggi, untuk selanjutnya dihidangkan sebagai bumbu etika diplomasi. Maka koki adalah tiang diplomasi, tiang kebudayaan. Bukankah setiap pertemuan, seperti halnya kopdar dalam blogsphere ini, tak indah jika tidak dilengkapi dengan jamuan makan?
Proses memasak, dengan semua seni yang terkandung di dalamnya, adalah gambaran peradaban sejalan dengan gerak sejarahnya: membakar dengan daun atau kayu, memanggang, merebus, mengukus, menggoreng dan lain sebagainya. Aktivitas itu sama seperti drama, sebab di sana ada tungku batu, periuk, kuali, dandang, wajan, bahan dasar masakan, bumbu dan lain sebagainya.
Dan hingga kini, teater api dan keterbutuhan akan properti panggung itu terus berkembang. Kita mengenal kompor, minyak tanah dan gas yang rencana kenaikan harganya menggetarkan kaum miskin, cabe yang pernah memaksa DPR bersidang, juga minyak goreng yang membuat pemerintah repot, sampai-sampai luput memperhatikan warga, sehingga mati kelaparanlah keluarga miskin di Makassar. Demikianlah, teater bernama gastronomi itu tak akan pernah usai.
Dan aku sakit, terbatuk-batuk di tengah subuh yang dingin, kemudian harus menghindari kopi, rokok dan ragam makanan yang berpotensi menyebabkan iritasi di tenggorokan, dan menjadi lebih terasing dari kebudayaan itu. Andai bisa, aku ingin mengirim suara batuk itu mengetuk hati orang-orang, memberitahu bahwa negeri ini jauh lebih sakit ketimbang dadaku. Kau dengarkah batukku?
Maka, jika aku dan sahabat penderita obesitas itu dilarang makan dan minum ini-itu, mungkin memang ada sesuatu yang harus diambil dari kami. Tapi kita ketahui, ada orang-orang yang bahkan tak pernah bisa menikmati ketinggian budaya dalam gastronomi itu. Mereka terasing dari kebudayaan, menggigil melewati malam-malan dingin, hanya karena miskin. Sudahlah dulu, nanti batukku makin parah. Subuh ini dingin benar. ***