SELAMAT MENYEBERANG
Desember 30, 2007 pada 3:25 pm (BUNYI JIWA)
Selamat Menyeberang
Selamat Tahun Baru 2008
Keramatkah kalimat ini? Aku sejenak merenung, tahun baru ini jatuh hari Selasa. Sesungguhnya, apa perbedaan Selasa (1/1/0
ini dengan Selasa-selasa yang telah lewat. Matahari masih yang itu-itu juga. Jam, menit, dan detik, juga masih dalam putaran yang itu-itu juga. Benarkah ada sesuatu yang baru?
Sewaktu kanak-kanak, aku selalu bermimpi agar hari di tahun baru berubah menjadi pink. Udara menjadi pink, air menjadi pink dan tanah menjadi pink. Ketika manusia bernafas, tampak udara berwarna pink itu keluar masuk dari hidung setiap orang seperti gelombang-gelombang kecil. Wiuh, alangkah indah. Kubayangkan juga, antara tahun lama dan tahun baru, ada semacam jurang pemisah. Lalu pelangi hadir sebagai jembatan. Kita menyeberang lewat warna-warni itu. Saat itu, mungkin kita akan benar-benar merasa berbeda. Tapi Selasa ini, yakinlah, masih hari-hari seperti yang telah berlalu juga.
Mungkin hanya ini yang berbeda: Jika sebelumnya kau lelah bekerja, maka malam adalah ranjang bagimu untuk membaringkan lelah. Tapi pada Senin (31/12/07), selelah apapun kau, mungkin malamnya kau akan berpesta dengan orang-orang, berpartisipasi meledakkan mercon, kembang api, atau menyerahkan hadiah-hadiah kecil kepada orang-orang yang kau cintai. Yah, berpestalah, rayakan tahun baru ini. Selamat menyeberang.
Tapi aku, bersama kekasih tersayang, memilih duduk di tepi jendela berkaca. Aku akan akan mengajaknya minum kopi hangat di sebuah kafe. Biarlah kami tak ikut dalam karnaval kegembiraan itu. Kami memutuskan menjadi penonton.
“Bayangkan kita adalah sepasang manusia terbuang,” kataku pada kekasih.
“Maksudmu?”
“Ketika orang-orang sibuk berpesta dengan famili dan saudara-saudaranya, kita hanya duduk di sini, sebab kita tak memiliki siapapun. Yah, kita bukan milik siapapun.”
“Kau membuatku sedih.”
“Kita pantas bersedih.”
“Tapi aku memang tak memiliki siapa-siapa.”
“Kau memilikku.”
“Trimakasih.”
Hanya itu yang kami percakapkan. Sebab sebelumnya kami telah berdoa untuk anak-anak jalanan, petani di desa yang harus ke ladang ketika tahun baru, pengemis yang gagal melacak sejarah dan masa depannya, buruh yang tak henti bergetar memilah-milah alokasi gaji yang tak seberapa…..tapi….benarkah kami telah berdoa untuk mereka, untuk semua yang menderita, untuk semua yang tak bahagia?
“Jika kau masih tak percaya, ayo kita berdoa lagi,” kata kekasihku.
Kami berdoa lagi. Kekasihku menangis. Aku sangat sedih, benar-benar merasa bahwa kami tak memiliki siapa-siapa. Aku ingin mengajak kekasihku mengunjungi anak-anak jalanan dan segala manusia yang padanya dilekatkan kata miskin dan gelandangan, menggiring mereka ke lobi hotel mewah, mengajak mereka makan sepuasnya.
“Sayang, yang kita miliki masih bernama kemiskinan. Jangan menangis,” kata kekasih mengusap airmataku. Tiba-tiba aku sadar, kami ternyata tak sendiri. Sebuah kembang api meledak di udara. Orang-orang berteriak. Aku mengecup mata kekasihku yang basah. Yah, selamat menyeberang. Masing-masing punya kebahagiaan sendiri. ***