SELAMAT MENYEBERANG

Selamat Menyeberang

Selamat Tahun Baru 2008

 

Keramatkah kalimat ini? Aku sejenak merenung, tahun baru ini jatuh hari Selasa. Sesungguhnya, apa perbedaan Selasa (1/1/0 8) ini dengan Selasa-selasa yang telah lewat. Matahari masih yang itu-itu juga. Jam, menit, dan detik, juga masih dalam putaran yang itu-itu juga. Benarkah ada sesuatu yang baru?

Sewaktu kanak-kanak, aku selalu bermimpi agar hari di tahun baru berubah menjadi pink. Udara menjadi pink, air menjadi pink dan tanah menjadi pink. Ketika manusia bernafas, tampak udara berwarna pink itu keluar masuk dari hidung setiap orang seperti gelombang-gelombang kecil. Wiuh, alangkah indah. Kubayangkan juga, antara tahun lama dan tahun baru, ada semacam jurang pemisah. Lalu pelangi hadir sebagai jembatan. Kita menyeberang lewat warna-warni itu. Saat itu, mungkin kita akan benar-benar merasa berbeda. Tapi Selasa ini, yakinlah, masih hari-hari seperti yang telah berlalu juga.

Mungkin hanya ini yang berbeda: Jika sebelumnya kau lelah bekerja, maka malam adalah ranjang bagimu untuk membaringkan lelah. Tapi pada Senin (31/12/07), selelah apapun kau, mungkin malamnya kau akan berpesta dengan orang-orang, berpartisipasi meledakkan mercon, kembang api, atau menyerahkan hadiah-hadiah kecil kepada orang-orang yang kau cintai. Yah, berpestalah, rayakan tahun baru ini. Selamat menyeberang.

Tapi aku, bersama kekasih tersayang, memilih duduk di tepi jendela berkaca. Aku akan akan mengajaknya minum kopi hangat di sebuah kafe. Biarlah kami tak ikut dalam karnaval kegembiraan itu. Kami memutuskan menjadi penonton.

“Bayangkan kita adalah sepasang manusia terbuang,” kataku pada kekasih.

“Maksudmu?”

“Ketika orang-orang sibuk berpesta dengan famili dan saudara-saudaranya, kita hanya duduk di sini, sebab kita tak memiliki siapapun. Yah, kita bukan milik siapapun.”

“Kau membuatku sedih.”

“Kita pantas bersedih.”

“Tapi aku memang tak memiliki siapa-siapa.”

“Kau memilikku.”

“Trimakasih.”

Hanya itu yang kami percakapkan. Sebab sebelumnya kami telah berdoa untuk anak-anak jalanan, petani di desa yang harus ke ladang ketika tahun baru, pengemis yang gagal melacak sejarah dan masa depannya, buruh yang tak henti bergetar memilah-milah alokasi gaji yang tak seberapa…..tapi….benarkah kami telah berdoa untuk mereka, untuk semua yang menderita, untuk semua yang tak bahagia?

“Jika kau masih tak percaya, ayo kita berdoa lagi,” kata kekasihku.

Kami berdoa lagi. Kekasihku menangis. Aku sangat sedih, benar-benar merasa bahwa kami tak memiliki siapa-siapa. Aku ingin mengajak kekasihku mengunjungi anak-anak jalanan dan segala manusia yang padanya dilekatkan kata miskin dan gelandangan, menggiring mereka ke lobi hotel mewah, mengajak mereka makan sepuasnya.

“Sayang, yang kita miliki masih bernama kemiskinan. Jangan menangis,” kata kekasih mengusap airmataku. Tiba-tiba aku sadar, kami ternyata tak sendiri. Sebuah kembang api meledak di udara. Orang-orang berteriak. Aku mengecup mata kekasihku yang basah. Yah, selamat menyeberang. Masing-masing punya kebahagiaan sendiri. ***

  

  

kubingkai tangismu jadi bintang

Sajak Pandapotan MT Siallagan

 

Karena kita berpisah, airmatamu menguap jadi malam, membungkus taman pertemuan. Maka kubingkai tangismu jadi bintang, agar lengang dan kelam mencumbui cahaya dan bulan menghamburkan warna-warna. Esok pagi, embun akan memantulkan segalanya jadi mentari. Menungganginya cahayanya, akan selalu sampai aku padamu. Kita akan menari lagi di pucuk-pucuk daun, memeluk angin yang senantiasa mempertemukan doa kita di segala rantau.  

Pekanbaru, 2004

menyetubuhi sunyi

Sajak Pandapotan MT Siallagan

Sunyi yang mengepung usia, ia susuri. Ia datang ke hatimu mengendarai lelah, sambil terus memeta sejauh apa nafasnya berlayar, seluas apa peluhnya menggenang jadi laut. Juga mimpi-mimpinya, mengapung sesunyi apakah? 

Uban putih di rambutnya mengibaskan angin, menuntun perahu meski gelombang tak pernah reda di antara tangisan dan dentuman doa-doanya. Hingga saatnya pun tiba, ia berhenti di dermaga yang mericuh di hatimu. Ia tatap tawamu berkecipak di atas airmatanya, mengepak serupa sayap burung, bercericit serupa pipit di bukit-bukit.

Ia seperti terlempar lagi ke sejarahnya, mendengar siul daun sambil menulis puisi di wajah sungai. Lalu desah batu-batu, mengigau tentang percintaan ikan. Dan riak-riak kecil melompat-lompat di matanya, bermain-main dengan angin. 

Karena ia ketuk dadamu, kaulihat masa kecilmu berlari-lari di bawah hujan. Tubuhmu telanjang, basah menggoda langit. Sedang menarikah ia di dalam jiwamu? 

Maka kalian pun bersiap menuntaskan perjalanan resah, sambil terbuai menyetubuhi sunyi. 

Pekanbaru, 2004 

« Tulisan sebelumnya