Tentang Cinta, Puisi dan Batuk

Oleh Pandapotan MT Siallagan

 

Lewat ruang sunyi sebuah surat, kuceritakan padamu tentang batuk yang menggali-gali luka di lorong paruku. Yang sepi. Dan, surat mungil itu memuat banyak resah yang semestinya kudesahkan dengan igauan-igauan panjang. Aku jadi tahu: kesedihan dan keriangan tak terlalu potensial meredam batuk, penyakit aneh yang hentakannya melumpuhkan jemariku, menjadikan jiwaku tak bisa bercerita banyak. Tapi, segala penyakit barangkali memang datang mencincang banyak hal, termasuk usia.

 

Tapi tahukah kamu, pada saat surat mungil itu kamu sahut dengan igauan panjang dan penuh dengan getaran sayang, aku ingin sekali meringkus tubuhmu dengan dadaku yang rapuh ini.

 

Dan, dugaanmu itu tepat benar. Batukku merajalela karena rokok dan kopi selalu menyerbu paruku pada malam-malam yang dingin. Pada malam-malam lengang yang senantiasa menyeret pikiranku ke ceruk waktu yang entah, hingga kadang-kadang tak terasa fajar telah mekar. Pada akhirnya, dugaanmu itu memanjang jadi doa-doa dan selalu menghubungkan degupku dengan bayangmu yang mendekat.

 

“Jangan terlalu setia pada rokok dan kopi, tapi temukanlah cinta pada setiap jalan yang tak akan pernah menyesaki nafasmu,” katamu menutup surat itu, dengan bahasa lembab. Menangiskah kamu menuliskan puisi kasih itu?

 

Sekarang, setiap kali batuk meronta-ronta dari lorong paruku yang sunyi, kamu seolah-olah baru usai mengembarai malam, terdampar di depan rumahku, lalu mengetuk pintu. Dan, sebuah kamar tak nyaman kubukakan untukmu. Kamar yang penuh dengan buku-buku berdebu, serakan kertas-kertas, puntung-puntung rokok, juga ampas kopi yang mengering di gelas-gelas.

“Apa-apaan ini?” tanyamu dengan suara beraroma neraka.

 

Maka, setiap kali batuk meronta-ronta dari lorong paruku yang sunyi, selalu kurasakan bahwa kamu sedang mengetuk pintu. Masuk untuk menyelamatkan aku dari kepedihan-kepedihan, dari kesedihan-kesedihan. Kamu ajari aku menulis puisi tentang batuk, juga tentang pantun yang memahat-mahat kasihmu di dadaku. Supaya segala tentang kita jadi abadi, supaya aku selalu sampai padamu, lewat doa-doa.

 

Kamarpilu, Pekanbaru, April 2004

JIKA PUISI PERGI

Pandapotan MT Siallagan

ketika tuts disentuh

huruf-huruf berlarian

mengerumuni mataku

kata-kata beterbangan

meninggalkan kepalaku

monitor sepi sendiri

tak ada puisi hari ini

Siantar, 30 Nov 2007

Aku dan Kamu Diringkus Luka

 

Cerpen Pandapotan MT Siallagan

13-03-03 01.33

Dari: 081537591948

Aku yakin kau sedang mabuk dalam mimpimu. 

Itu Short Message Services (SMS), pertengahan Maret 2003. Hujan menghempas di luar. Dingin dan angin meringkus alam, juga aku. 

13-03-03 01.39

Ke 081537591948

Apa kau pikir semua orang selalu tidur pada dini hari senyap seperti ini. Siapa? 

13-03-03 01.46

Dari: 081537591948

Syukurlah kau belum tidur. Ini aku, Wulan. Aku kangen. Kangen sekali. 

Lalu peristiwa itu membuka banyak hal, sekaligus menghabiskan semua harapan. 

***

Dia tiba di Pematangsiantar saat siang berkabut, saat gerimis sedang jatuh. Dada terasa gaduh, menjadi cair gumpalan rindu di dada, mengalir membebaskan luka. Tapi kehangatan akhirnya muncul dari dingin yang mengendap. Aku mendekapnya. Halte bus jadi saksi. 

“Apa kabar?” tanyanya dengan suara yang tak terluka.

Aku hanya mampu melemparkan senyum muram. Aku benar-benar terbantai dalam pertemuan itu. 

***

Di dalam taksi, tak ada percakapan yang berlangsung. Ini tentu aneh, sebab dulu, percakapan-percakapan renyah akan sangat mudah tercipta di antara kami, bahkan pada saat sangat sedih. Tapi bagiku suasana ini jauh lebih baik, sebab ada yang pasti tidak terusir dari percakapan-percakapan yang tak melulu diharapkan.  

Kuamati dirinya dengan tatapan yang sedikit tidak sopan: sebuah cincin emas bermata intan melingkar di jari manisnya, jam tangan bermerek terkenal di pergelangan tangannya, beberapa gelang berwarna putih berkilauan di pergelangan tangan yang lain. Lalu, celana jins kumal dan kaos oblong ketat yang dikenakannya, berangsur-angsur memprovokasi penilaianku atas penampilannya. Rasa tidak simpati diam-diam muncul. Aku membutuhkan seorang perempuan yang sedikit elegan, sopan, setidaknya dalam hal berbusana.  

Dan ketika kulirik wajah, hidung, dagu dan telinga berdaun lebar yang ditenggeri anting-anting mungil, sesuatu berderap di dadaku. Aroma rambutnya membuatku makin mabuk. Aku rindu rasa tak nyaman seperti itu. Rasa tak nyaman yang berkali-kali menyeret kami ke ranjang, bergulingan dan berakhir pada sebuah diam yang sunyi. 

Hidup ini mungkin menyisakan sebuah ruang yang samasekali tak membutuhkan bahasa, juga suara. 

Dia mendahuluiku membayar taksi, dan begitu saja nyelonong masuk ke rumah ketika pintu kubukakan. Tanpa kikuk, dia meletakkan tas di atas meja di kamarku, membukanya, mengeluarkan sikat gigi, odol, handuk, celana model hipster, kolor dan kutang. Banyak hal yang kuyakini mungkin telah berubah tentang dirinya. Dia belum pernah seceroboh itu, tak biasa selancang itu.

Dan aku pasrah menjadi pihak yang harus mengelus dada menyaksikan lakunya. Tanpa sedikitpun peduli atas sikap risih yang sengaja kutunjukkan secara berlebihan, dia nyelonong lagi ke kamar mandi, dan aku harus menunggu beberapa menit hingga dia selesai mandi. 

Kali ini wajahnya tampak lebih segar, tapi matanya tetap saja memancarkan sorot lelah. Perjalanan selama kurang lebih limapuluh jam dari Yogyakarta mungkin telah menguras tenaganya hingga tandas. Aku membatin, hal keparat apalagikah yang masih dia perjuangkan dan inginkan dari hubungan kami yang rapuh? Aku trenyuh membayangkan perjalanannya. 

Lalu, masih tanpa bicara, setelah rapi, dia menghempaskan tubuhnya di ranjangku, dan tertidur tanpa merasa perlu meminta ijin dariku. Pada saat-saat seperti ini, berbagai perasaan yang kumiliki saling berebut untuk dimuntahkan. Tapi, aku cukup tahu meredam rasa jengkel, aku tidak tega merusak pertemuan itu. Kubiarkan dia tertidur. Setidaknya, sikapku kali ini bisa menjadi semacam pengorbanan, kalaupun pengorbanan itu masih ada dan perlu. Dulu, aku tak pernah benar-benar berkorban demi dia. Aku tak cukup romantis, tak cukup tahu cara mencintai. 

*** 

Setahun lalu, aku bertemu dengannya setelah sebelumnya pernah berpisah selama sembilan tahun. Dia datang ke rumahku, tepat pada ulang tahunku: 13 Maret. Aku ingat dengan jelas: pukul tujuh belas sore, hari mendung, cuaca sangat dingin. Dia mengenakan sweater tebal yang terbuat dari bulu domba. 

“Aku sebetulnya sedang sakit, mungkin karena perubahan cuaca, tapi mengingat ulangtahunmu sekaligus ingin memberi kejutan, apa salahnya kuterobos cuaca buruk ini. Apa sih yang tak bisa kulakukan demi kamu?” 

Ucapannya itu benar-benar membuatku merasa mampus. Itu semacam gugatan. Sudah kukatakan, aku tak cukup tahu bagaimana cara mencintai. Sedangkan dia, dia pernah berbuat segalanya untukku, dan membuat hidupku kebanjiran rasa. Pada pertemuan kali itu, dia gampang terharu, berkali-kali menangis dan melulu bercerita soal kesedihan.

 Maka, demi memancing sedikit keriangan, aku bertanya tentang hidupnya, rencana-rencananya, juga kemungkinan adanya berbagai gagasan yang lebih menjanjikan dilakukan untuk mengisi hidup. Tapi dia hanya menggeleng, pelan. Dan aku sangat benci kesedihan-kesedihan keparat semacam itu. Kukerahkan semua upaya  yang mungkin bisa membuatnya tertawa, dan aku bersyukur ketika hal itu terjadi. 

Di akhir pertemuan, dia mengeluarkan tak kurang dari lima  buah buku dari dalam tasnya. 

“Hadiah ulangtahunmu. Sudah tigapuluh. Apa tidak muak melajang terus?” 

Aku menyodorkan sikap diam untuk perkataannya. Tak ada hal yang kupikir perlu untuk diungkapkan kecuali menyampaikan terimakasih atas kebaikannya menghadiahkan buku-buku itu. 

Lalu, setelah mengobrak-abrik hatiku, dia pergi. Tak ada celah untuk berharap, apalagi sebuah janji yang tersulam di atas lembaran pertemuan itu. Tak ada acara tukar photo, tukar nomor handphone, ­tukar alamat email, dan kelalaian itu berkali-berkali membuat aku harus memaki diri sendiri. Semua pintu terkunci rapat. Untunglah dari seorang kawan dia berhasil mengetahui nomor handphone-ku sehingga pertemuan kali ini menjadi mungkin terjadi lagi. 

***

Dia terjaga, dan ada yang tak biasa. Semacam lengang, tapi bukan. Rasa bahagia, sedih, sunyi, kecewa dan cinta bercampur aduk, berbaur mencabik-cabik jiwa. Aku menyalakan rokok, menghirup asapnya dalam-dalam, dan merasa terbebas ketika mataku bersitatap dengan matanya yang teduh.

 “Enak tidurnya?” 

Dia mengangguk, merapikan rambutnya, dan mengucek sekilas-lewat matanya yang agak memerah. 

“Aku seperti berada di rumahku,” katanya, “rumah yang kuimpikan, bukan rumah yang di dalamnya aku telah hidup.” 

Lalu, dia menyerbu sekeliling kamarku dengan matanya. Aku sedikit kikuk. Sketsa-sketsa buruk yang lahir dari kerja tanganku begitu saja bertempelan di seluruh dinding, acak, dan samasekali tidak memiliki keteraturan dekoratif. Di atas meja, bercokol tape-recorder butut, alarm-clock, dan sebuah kipas angin murahan. Dari caranya menatap, aku tahu bahwa buku-buku di rak membuat perhatiannya sedikit lebih terusik.

“Belajarlah menata ruangan, supaya kegilaanmu membaca bisa lebih terlampiaskan,” katanya dengan senyum menyindir. “Sebetulnya, ada hantu dan malaikat setiap kali aku melihatmu membaca. Kamu bisa mengabaikan aku sedemikian rupa demi masuk ke dalam buku-bukumu. Tapi, pada lain sisi, aku bisa menjadi orang yang sangat bangga ketika wawasanmu berkali-kali menyelamatkan aku dari persoalan-persoalan rumit. Kapan kamu bisa membebaskan diri dari jajahan teks-teks itu?” 

Aku memilih diam, tapi sedih. Dia juga diam. Sunyi seketika mengepung. Kubiarkan pikiranku mengembara, terkenang pada segala peristiwa yang bermula sekitar sepuluh tahun yang lalu. Aku berkenalan dengannya pada sebuah pementasan teater. Pada saat itu, kami masih duduk di semester-semester awal di sebuah universitas di Pekanbaru, kota yang sangat kucintai itu. Dia duduk di fakultas tehnik dan aku di fakultas pertanian. Tak banyak waktu yang kami butuhkan untuk menjadi akrab. Hal itu bisa terjadi karena kami merasa senasib, sama-sama terjebak dalam studi yang samasekali tidak kami minati.

Seperti halnya aku, dia lebih tertarik pada dunia seni seperti tari, musik, teater dan sastra. Inilah sebuah kemalangan yang bersumber dari rasa patuh. Kepatuhan pada orangtua. Hingga kini aku belum sepenuhnya bisa paham mengapa huruf i dan r  di awal nama benar-benar menjadi dambaan masing-masing orangtua kami. Dan, kesedihan-kesedihan yang muncul atas kenyataan ini membuat kami saling membutuhkan, saling memahami, dan berakhir pada sebuah hubungan asmara. Aku mencintainya dengan gila. Dia mencintaiku secara membabibuta. Hingga segalanya tandas, tuntas, dan keliaran-keliaran seksual berkembang menjadi candu tak terelak. 

“Setelah bagian-bagian tertentu di tubuhku tidak lagi mampu memberi rasa geli pada tubuhmu, apakah masih ada yang ingin kau gali,” bertanya dia suatu kali. “Setiap lubang sudah ­sumpek dan keinginan-keinginan telah terjerembab, terkubur dan mengendap jadi rasa sakit yang tak sepenuhnya bisa dimaknai luka. Kamu tahu, aku telah menutup semua ruang bagi suatu keharusan. Pernikahan tak lagi harus terjadi, dan bagiku gagasan itu sudah sangat mungkin untuk dielak, didepak sebagai ukuran wajar atau tidaknya suatu kehidupan. Yah, aku mulai benci pada gagasan pernikahan.” 

“Dan,” dia melanjutkan kata-katanya yang berdarah, “Setelah kamu hapal tahi lalat di punggungku, bekas panu di bagian dalam pahaku, adakah yang masih ingin kau cari. Agaknya, kita harus berhenti, mencoba menyelematkan diri dari keinginan-keinginan yang membantai. Aku memang mencintaimu, tapi aku sudah lelah diperbudak cinta, aku harus membebaskan diri. Namun, aku tak ingin menyalahkan apa dan siapa. Satu-satunya hal yang mungkin tidak pernah kita ingat adalah kepergian. Ada memang cahaya yang berdelau dalam pertemuan kita, tapi sebuah upaya untuk menutupnya janganlah sesekali kamu sebut sebagai kegelapan.” 

“Maksudmu?” 

“Aku ingin pergi. Aku tak lagi mampu bertahan. Aku ingin mengembangkan bakat tariku.” 

Dan, dia benar-benar pergi. Di Yogyakarta, dia mengambil jurusan tari di salah satu institut seni di kota pelajar itu. Pada awalnya, kepergian itu kuanggap sebagai sebagai upaya membebaskan diri dari gelap yang singkat menuju cahaya yang menjanjikan. Tapi, beberapa waktu kemudian, aku tahu bahwa kepergiannya ke Yogyakarta dibiayai oleh seorang dosen, dan kudengar dia sudah berkali-kali check-in bersama dosen itu di beberapa hotel. Ternyata, aku belum sepenuhnya mengenalnya, meski seluruh lekuk tubuhnya sudah kuhapal. Uuhhf, kesialan ini. 

Selanjutnya, meskipun dia membenarkan sebagian dan menyangkal hal yang terburuk, aku memutuskan untuk mengakhiri segalanya. Aku lelah, tak cukup potensial meniru para aulia yang bisa memaafkan kesalahan-kesalahan paling buruk.

Dan, kekalahan-kekalahan itu berawal dari sana. Aku memutuskan berhenti kuliah, dan bergabung dengan para pengarang di kotaku, belajar menulis, mengasah bakat. Tak ada memang uang bahkan sekedar cukup untuk bertahan hidup di bidang itu, tapi aku telah memilihnya. Dan ini membuat jarak antara aku dengan dia semakin jauh. Dia sudah cukup laris dan sering dipakai sebagai penari latar di berbagai pertunjukan. Setidaknya, untuk ukuran kelas bawah, dia sudah cukup mapan. 

“Sedang memikirkan apa?” tiba-tiba suaranya berdentam. Aku selamat dari pikiran yang pasti akan menyeretku ke lembah luka yang lebih menyakitkan. 

“Kamu sendiri sedang mikir apa?” 

“Mikirin kamu. Masih cinta nggak samaku?” Uuhhff, luka ini. Tahukah kamu pertanyaan itu bisa membuatku mampus? 

“Mungkin tidak,” jawabku dengan suara yang sepenuhnya berbau bohong. 

“Tapi aku masih mencintaimu.” 

“Aku tidak.” 

“Pukimak,” kata itu meloncat dengan kasar dari mulutnya. Bukan untuk menunjukkan bahwa dia kuat, sebab setelahnya dia benar-benar menangis, mendaratkan tinjunya berkali-kali ke dadaku. Peristiwa tak nyaman ini membuatku sedikit bangga. Inilah pertama kali kekalahan-kekalahanku bisa kubayar. Tapi, apakah memang ada kemenangan sebenar dalam hidup ini? Setelah ini, aku pasti merasa lebih berpuing. Sebab aku sangat mencintainya. 

“Nanti sore aku balik,” katanya tiba-tiba, “untuk apa aku berlama-lama di sini jika sedikit harapanku begitu saja kamu patahkan. Biarlah keinginanku menikah denganmu terbiar sebagai kebodohan. Aku salah mengatakan kepada kamu bahwa aku benci gagasan pernikahan. Tapi, aku benar-benar mencintaimu.” 

Dia menangis lagi, lebih perih dari seluruh tangisnya yang pernah kukenal.

“Aku akan mengantarmu ke halte,” kataku.

“Dan, jika kelak aku memiliki sedikit uang, aku akan menikahimu.” 

*** 

Dia meninggalkanku sore itu dengan debar paling gila, paling tak nyaman. Aku lunglai, lumpuh. Tapi aku harus bersiaga dari halte itu, menyeret hati yang berat dan membaringkannya dalam mabuk. Waktu terasa berjalan dengan sangat lambat. Sejuta kali lebih lambat dari gerak detik awal bus yang ditumpanginya. Mengapa kesedihan begitu potensial memperlambat banyak hal? Aku menyetop taksi, tak berminat menumpangi oplet yang bergerak lambat. Aku benci pada segala yang lambat.

Aku ingin segera tiba di rumah, membuka kotak kecil di kolong tempat tidurku, mengeluarkan sebotol bir, meneguknya hingga tandas. Selanjutnya, aku pasti selamat. Tapi, sebelum tubuh dan otakku panas dan mampus dibantai alkohol, ponselku tiba-tiba berdering, dan sebuah sms masih bisa kubaca dengan sangat baik: Lupakan aja sikapku tadi, aku tak percaya kau bisa menghidupiku. Kayaknya kita memang harus berpisah. 

Bangsat. Aku meneguk sebotol lagi. 

Pekanbaru, Januari 2004                 

« Tulisan sebelumnya