Perempuan itu duduk di sebuah bangku taman, meniup harmonika, seperti sedang berusaha mengalirkan kesedihan dari setiap tarikan nafasnya.
***
Dini hari. Ponsel di atas meja berdering. Memecah sunyi kamar. Perempuan pincang yang sedang lelap di atas ranjang, tersentak dari mimpinya, lalu turun dengan tertatih-tatih, meraih ponsel. Di luar, gerimis mendesis. Ayam jantan kesiangan berkokok. Perempuan itu menempelkan ponsel di telinga kanannya. “Halo,” katanya dengan suara berat.
Ia dengar suara lelaki itu, tersendat, serak dan patah-patah, “Istriku, ini aku. Aku terluka. Dadaku di tendang. Besok aku pulang. Jangan ke mana-mana, ya!”
Ponsel ditutup. Perempuan pincang menggelegak darahnya, bangkit amarahnya. Mulutnya menguarkan kutuk. “Suamiku tak pantas dilukai, tak pantas disakiti. Di mana Tuhan. Di mana kemanusiaan. Di mana hati. Di mana nurani.” Perempuan itu meracau. Matanya menggelindingkan air. Nafasnya sesak. Gerimis di luar makin rimbun. Sunyi.
***
Disebut apakah sebuah kisah yang bermula pada suatu malam?
Ini di sebuah kota. Kota yang salah menata diri. Kota yang terasa udaranya menyesakkan dada. Kota yang memiliki musim tambahan dalam perjalanannya: musim asap. Di bangku sebuah taman, seorang lelaki meniup harmonika, memainkan lagu-lagu sedih, seperti sengaja menikam malam. Dan seorang perempuan muda, berkaki pincang, bermata bulan, terseok-seok menghampirinya.
“Selamat malam, boleh aku duduk bersamamu? Aku tersentuh mendengar suara harmonikamu.”
Lelaki itu menatap perempuan itu dengan mata yang malas. “Silahkan,” katanya, lalu kembali memainkan harmonika. Lagu-lagu syahdu kembali mengalir, membasahi malam yang kering dibakar cuaca. Asap meruapkan aroma hutan yang terbakar di segenap taman. Dan lelaki itu larut, hanyut diseret nada-nada.
“Aku suka suara harmonika, tapi tak pernah bisa memainkannya,” kata perempuan itu, menatap sayu pada lelaki itu. Lelaki itu tak menjawab. Bergeming seperti sedang masuk ke dalam dirinya yang lain. Perempuan itu memancing lagi, “Sudah larut, apa tidak sebaiknya kita pulang?”
Lelaki itu tersentak. “Aku belum ingin pulang. Aku masih ingin menikmati malam.”
“Tapi cuaca sedang buruk. Kau lihat asap itu, parumu bisa rusak.”
Lelaki itu terperangah, ia tatap perempuan itu. Perempuan itu juga menatapnya, tatapan yang sungguh-sungguh peduli, bukan basa-basi. Sudah lama rasanya ia tidak pernah bertemu lagi dengan mata yang menunjukkan kepedulian seperti itu. Tiba-tiba tangannya bergerak, menjulur ke arah perempuan itu, “Namaku Lasido,” katanya. Perempuan itu menyambut uluran tangannya dengan hangat, dan menyebut namanya: Soniya.
“Aku sudah sejak sore di taman ini. Tadi kulihat kau datang dengan harmonikamu,” kata perempuan itu. Lelaki itu tersenyum.
“Rumahku agak jauh dari sini, terlalu jauh untuk disusuri dengan jalan kaki,” kata perempuan itu, “Tadi kulihat kau datang dengan sepeda motor. Boleh aku minta tolong kau antar pulang? Sebenarnya, aku merasa risih juga meminta orang mengantarku, apalagi orang yang tidak kukenal. Tapi hari ini nasibku sial. Tadi preman-preman jalanan itu datang menghampiriku, meminta sejumlah uang, tapi aku tak punya. Mereka pikir aku berbohong, mereka mengambil tongkatku. Kau tahu, aku tak bisa jalan tanpa tongkat itu.”
Lelaki itu segera tahu bahwa perempuan itu pincang. “Jika begitu, ayolah, kuantar kau.” Ia menghidupkan motornya, menyuruh perempuan itu naik ke boncengannya. Selama perjalanan, tak ada percakapan yang berlangsung antara mereka. Hanya deru mesin motor yang terdengar, juga suara klakson yang sesekali menjerit. Lalu, setelah sampai di sebuah persimpangan, perempuan itu bersuara, “Belok kiri, ya!”
Setelah sampai, perempuan itu turun dari motor, mengucap terimakasih, lalu berjalan tertatih-tatih menuju rumahnya. Lelaki itu terpaku sejenak, melihat perempuan itu terseok-seok. Hatinya goncang. Jiwanya luka. Ia teringat bapaknya. Bapaknya yang pincang setelah berhasil melarikan diri dari bekapan tentara, pada suatu masa, ketika semua label komunis dan kata ‘terlibat’ terdengar angker, dan harus dimusnahkan. Lama lelaki itu memandang rumah yang menelan tubuh perempuan itu. Rumah kecil yang sederhana, pikirnya.
Kisah berlanjut keesokan harinya. Ketika terbangun, pikiran lelaki itu ziarah, pergi membayangkan perempuan pincang. Dan ia segera bersiaga, bermaksud menemui perempuan itu. Ketika sampai di rumah perempuan itu, ia ketuk pintunya berkali-kali, dan wajah perempuan itu menyembul dari balik pintu yang berderit. Matanya memerah, rambutnya kusut masai, tapi mendadak menjadi berbinar ketika ia sadar bahwa yang datang adalah lelaki itu. “Kamu? Ayo, silahkan masuk!”
Lelaki itu tersenyum. Perempuan itu lalu pamit untuk mandi. Pada saat itulah lelaki itu punya kesempatan menyerbu seisi rumah dengan matanya yang bulat; segelas kopi dan beberapa potong roti tanpa selai terhidang di atas meja; rak yang berjejal dengan banyak buku; dinding yang penuh tempelan lukisan, dan ia kagum menatap sebuah lukisan tentang seorang wanita yang menggendong anak dan berlari menjauhi api yang mendekat ke arah sebuah rumah.
Perempuan itu tiba-tiba muncul. “Itu lukisan tentang suku terasing yang terusir oleh api,” katanya.
Lelaki itu diam. Dengan sedikit kikuk, ia meneruskan keasyikannya mengamati seisi rumah. Sebuah komputer butut menyala di sudut ruangan. Screen-saver-nya yang terdiri dari beberapa huruf, bergerak-gerak secara zikzak. Lelaki itu kaget, kata yang dibentuk huruf-huruf itu adalah namanya: Lasido. Ia tatap perempuan itu. Perempuan itu balik menatapnya, gugup sambil berkata, “Nama seorang lelaki yang kukagumi. Ia seorang pendidik dan penulis. Aku kagum pada perjuangannya, dan aku selalu mengikuti tulisan-tulisannya tentang pendidikan di koran-koran.”
Lelaki itu tercengang. Ia merasa, ada sesuatu yang disembunyikan perempuan itu. Ia tatap lagi perempuan itu. Kali ini perempuan itu mengelak. Tapi itu lelaki mendekat ke arahnya, menyentuh bahunya, dan berkata, “Kurasa, kau sudah mengenalku.”
“Tidak.”
“Kau bohong. Siapa kau sebenarnya?
“Aku adalah aku,” jawab perempuan itu sekenanya. Mendadak lelaki itu merasa risih, tapi sedikit bangga. Ia bertemu dengan seseorang yang justru sudah mengenalnya. Apakah ini sebuah peruntungan, ataukah sekedar peristiwa kebetulan?
“Katakan, siapa kau sebenarnya,” Ia memohon kepada perempuan itu.
***
Seorang perempuan, Lasido, tak selalu punya keberanian untuk bicara tentang sejarahnya. Tapi, barangkali, tak semua endapan peristiwa mesti terbiar. Tak semua daun rontok hadir sebagai isyarat ajal bagi pohon-pohon. Seperti bunga, layu dan mekar adalah warna perjalanan. Dan tentang aku, kepadamu harus kukisahkan. Aku adalah perempuan penggerutu, tukang mengeluh bahkan pada apa yang telah kudapatkan dengan sempurna. Aku lahir dari seorang ibu yang malang, di sebuah bandar kecil tempat kau bisa bertanya pada lumut tentang sejarah yang mengendap. Atau, cukup punya artikah bagimu tubuh gempal kul-kuli pelabuhan? Di pundak mereka ada sejarah kemiskinan. Begitulah, Lasido, aku lahir berayahkan lelaki kuli, di antara peluit kapal dan kepak burung-burung walet mengitari tiang-tiang pelabuhan. Aku tumbuh dan besar seperti ombak yang bercerita tentang gairah laut. Tetapi, punya makna apa laut bagimu? Apakah laut serupa maut? Sebab ayahku telah direnggutnya, pada suatu masa, ketika aku belum ingat aku ada. Dan bagiku, hal itu memedihkan benar. Pedih karena nyawa dipertaruhkan untuk hidup yang terkalahkan. Kami sebenarnya punya leluhur yang jaya. Hutan dan segala isinya konon adalah milik mereka. Tapi, sejarah telah merampas segalanya dari tangan mereka, sehingga kami harus menyingkir ke bandar-bandar demi bertahan hidup. Dan hingga kini, perampasan itu tidak juga berakhir. Kau lihat kan, kota kita masih selalu dikerubungi asap. Belajar dari itu, aku ingin berbuat sesuatu yang baik bagi tanah kami. Delapan tahun yang lalu, ketika aku baru saja merampungkan studiku, aku bergabung dengan sebuah LSM yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan. Tetapi, kenapa niat baik selalu dihadapkan pada kekerasan? Kakiku tertembak pada suatu hari ketika rombongan kami masuk ke wilayah suatu perusahaan yang membuang limbah beracun.
***
Lelaki itu seorang pendidik. Ia rela masuk ke desa-desa terpencil untuk mengajar anak-anak suku terasing. Bertahun-tahun ia bergelut dengan dunia yang menyedot usianya. Lalu, ketika perjuangan samasekali tidak mendapat perhatian dari pemerintah, ia kembali ke kota. Dan dari pengalamannya mendidik selama bertahun-tahun di pedesaan, ia memutuskan diri jadi penulis, terutama hal-hal yang menyangkut dunia pendidikan. Lalu, ia bertemu dengan Soniya, perempuan yang pincang karena hukum yang mandul.
***
Lelaki peniup harmonika menikah dengan perempuan pincang: Lasido dan Soniya. Sepasang manusia berhati besar tapi dikerdilkan sejarah. Tetapi, seperti air mengalir, sepasang manusia berhati besar itu tak berhenti memperjuangkan kebenaran. Untuk melanjutkan perjuangan istrinya, lelaki itu pergi lagi ke desa-desa, memberi bantuan moral dan pikiran kepada suku-suku terasing, agar mereka menuntut balik tanah mereka yang dirampas untuk mendirikan perusahaan-perusahaan raksasa. Tetapi, keesokan hari setelah ia menelepon istrinya, lelaki itu pulang tanpa nyawa, seperti janjinya. Dan perempuan itu harus berhadapan lagi dengan hukum yang mandul, mengusut kematian suaminya.
***
Perempuan itu masih tetap meniup harmonika, taman semakin sepi, dingin kian menggigit. Tapi ia hanya bisa mendesah, “Ah, Lasido, perempuan tak selalu punya keberanian untuk bicara tentang sejarahnya. Tapi, barangkali, tak semua endapan peristiwa mesti terbiar. Tak semua daun rontok hadir sebagai isyarat azal bagi pohon-pohon. Seperti bunga, layu dan mekar adalah warna perjalanan. Dan tentang aku, kepadamu harus kutanyakan, kuatkah aku sebagai perempuan untuk terus berjalan memikul kebenaran? ***
PEKANBARU, 2004